Bertauhid Itu Merawat Bukan Menaklukkan

Bertauhid itu menyatu, manunggal.

Jika engkau bertauhid, maka menyatulah dengan semesta karena semesta adalah bagian kecil dari Kekasihmu Yang Maha Besar.

Jika engkau sesuaikan ritmemu dengan suara alam, maka akan engkau dapati semesta sibuk bertasbih pada Kekasihmu.

Dan begitu nuranimu menyatu, maka akan kau dengar panggilan, bagaimana semestinya dirimu bekerja merawat dan memelihara alam semesta.

Yang bertauhid itu tak bernafsu melawan & menaklukkan alam, melainkan sibuk merawat dan memelihara peradaban semesta.

Sungkem katur Mbah Yai Sahal Mahfudh (alm), tabarrukan dengan karya beliau “Nuansa Fiqh Sosial” (1994). Lahu alfatihah.

Tauhid Konstitusi

Rasanya bukan perbedaan & toleransi yang membuat kita khianat & berpaling dari agama murni.

Bisa jadi, berkonspirasi untuk menggadaikan amanah rakyat itulah yg membuat para politisi busuk layak dilabeli penghianat bangsa.

*****

Rasanya bukan bershalawat & maulidan yang membuat kita munafik.

Bisa jadi, provokasi menggeser Pancasila dengan khilafah atau imamah-lah yang membuat pemuda kita kehilangan respek terhadap asas-asas negara yang disepakati.

*****

Rasanya bukan manaqib & al-barzanji yang membuat kita fasik.

Bisa jadi, arogansi dan sikap main hakim sendiri itulah yang membuat laskar-laskar berjubah bertindak fasik terhadap tertib hukum yang mustinya kita patuhi.

*****

Rasanya bukan tahlilan & sadranan yang membuat kita kufur.

Bisa jadi, pengingkaran terhadap jasa-jasa para leluhur & pahlawan-lah yang menjadikan generasi ini kufur nikmat & pintar memaki tradisi berbangsa negeri.

*****

Rasanya bukan berziarah & makam suci yang membuat kita syirik.

Bisa jadi, mencederai konstitusi yang telah disepakati para pendahulu itulah yang membuat kita syirik ideologi & piawai mengutuk kepincangan pemerintahan ini.

*****

Kenapa kita tidak bertauhid konstitusi, satu asas bernegara yang telah disepakati?
Kenapa kita tidak bertauhid konstitusi, satu impian tentang negara bagus yang terampuni?
Kenapa kita tidak bertauhid konstitusi, satu persemakmuran untuk mengelola karunia Gusti yang terhampar di bumi Indonesia ini?
Kenapa kita tidak bertauhid konstitusi, satu bakti untuk negeri yang memberi tempat padaku, padamu, pada leluhur dan pada anak cucu kita kelak?
Kenapa kita tidak juga bertauhid konstitusi, menyatukan hasrat kebangsaan untuk negeriku Indonesia.

Untuk negeri, rasanya tidak pantas Syirik Konstitusi.

Ikhlas Bertauhid

Santri 1 : ”Jadi kalo saya baca qulhu tiga kali, sama dengan khatam al-Qur’an nggih, Yai?”
Kyai : ”Boleh. Yang tidak kalah penting, Kanjeng Rasul seolah memberi isyarat pada kita bahwa sepertiga bahasan dalam al-Qur’an adalah problem keikhlasan dan ketauhidan, tema surat al-Ikhlas.”
Santri 2 : ”Jadi qulhu bukan hanya soal Tuhan yang tidak beranak dan diperanakkan nggih, Yai? Kulo lebih rasakan lebih dekat pada makna Tuhan yang “tak bersebab” dan tidak “dipersebabkan”. Apalagi perintah pertama langsung disuruh bikin pernyataan, “Katakanlah”. Jadi ini semacam surat pernyataan, Yai?”
Santri 1 : ”Kang K***ni ada-ada saja. Kalopun itu surat pernyataan, emang ditujukan pada siapa?”
Santri 2 : ”Ya, pada pembacanya dan para pendengarnya, bahkan bisa bermakna seruan pada seluruh semesta, Dimas.”
Santri 3 : ”Maksudnya Tuhan yang “tak bersebab” dan tidak “dipersebabkan” itu bagaimana, Kang?”
Santri 2 : “Artinya, wujud-Nya Tuhan itu tidak bersebab dan tidak dipersebabkan oleh kejadian, tuntutan atau kondisi apapun juga.”
Santri 4 : “Kok aku tidak paham tho, Kang. Maksudnya bagaimana?”
Santri 2 : ”Mungkin terlalu jauh untuk membicarakan wujud-Nya Gusti Allah. Coba rasakanlah, bahwa cinta-kasih-Nya Gusti Allah itu tidak perlu alasan dan sebab, dan kehadiran-Nya tidak karena suatu akibat tertentu. Termasuk kalo kita pertanyakan mengapa Gusti Allah swt. menghadirkan keragaman suku, bahasa, bangsa dan etnis manusia, maka jawabnya Gusti Allah tidak butuh alasan dan sebab untuk menciptakan apa yang Dia mau, kita yang perlu mencari hikmah dibalik kodrat-Nya, dari sisi baik dan buruknya.”
Santri 5 : ”Jadi maksudnya bertauhid itu tidak ‘hanya’ mengakui bahwa Gusti Allah itu satu ya, Kang?”
Santri 2 : ”Iya. Bertauhid juga bermakna ikhlas menerima keragaman dan mengakui bahwa kita sebenarnya satu kesatuan yang hanya akan kembali pada Allah SWT saja. Menistakan satu ciptaan Allah, sama saja menistakan Sang Maha Pencipta. Tugas orang yang bertauhid dan ikhlas itu memerangi kekufuran, bukan membenci orang kafir. Melawan kemiskinan dan kebodohan, bukan melawan orang miskin dan orang bodoh. Dan seterusnya. Begitu nggih, Yai?”
Kyai : “Zzzzzz… (duduk tertidur )”
Santri 6 : “Ya sudah. Qulhu saja, Lek”

Sepertiga problem kehidupan adalah problem keikhlasan dan bertauhid.

Pembunuh Para Nabi

Aktivis 1 : ”Sudah jelas Yahudi dan Nasrani dikutuk dalam al-Qur’an. Kenapa Yai, malah mendukung mereka?”
Kyai : “Saya mendukung persaudaraan dan kemanusiaan. Sepahaman saya, al-Qur’an mengkritik Yahudi, Nasrani dan kaum-kaum yang lain bukan sebagai kelompok social. Al-Qur’an mengkritik prilaku dan tindakan mereka, sebagaimana al-Qur’an juga sering mengingatkan perilaku dan tindakan kita, muslim para pembaca al-Qur’an.”
Aktivis 2 : “Samanya dimana Yai. Lha wong jelas, al-Qur’an jelas menyebut mereka membunuh para Nabi kok. Mana ada umat muslim yang membunuh para Nabi Yai. Ngarang Yai ini.”
Kyai : “Membunuh para nabi itu bukan hanya kelakuan umat-umat terdahulu. Hari inipun, jika kita tidak berhati-hati, maka kaum muslimin juga bisa berkelakuan “membunuh para Nabi”.
Aktivis 3 : “Maksud Yai apa? Kok malah bikin fitnah umat Islam. Sampeyan mau dikenakan pasal penistaan?”
Kyai : “Membunuh para Nabi” bisa jadi bermakna lebih luas. Ketika kita agungkan nama para nabi, namun kita campakkan ajaran-ajaran beliau yang lestari dan universal, maka itu bisa jadi bagian dari “pembunuhan terhadap para nabi”. Jika kita memancung ajaran-ajaran luhur itu, maka kitalah pembunuh para nabi yang sebenarnya.”
Aktivis 2 : ”Penjelasan mbulet. Konkretnya apa? Sampeyan ngomong ngalor ngidul malah nuduh umat membunuh para nabi.”
Kyai : ”Pendapat saya biarlah untuk saya dan santri-santri yang mau menerima ilmu saya. Sampeyan tidak perlu risau pendapat saya. Sekedar missal, Nabi Adam as mengajarkan pentingnya pranata keluarga sebagai tonggak peradaban manusia. Maka tatkala kita abai terhadap pranata keluarga, kita telah mencampakkan ajaran nabi adam alias membunuh Nabi Adam as. Tatkala kita kemaruk dengan pembangunan di daratan, maka kita telah abai peringatan Nabi Nuh as untuk mengeksplorasi kekayaan maritim dan peradaban samudra. Bisa jadi, kita telah membunuh Nabi Nuh as. Tatkala kita bungkam terhadap penjajahan dan genosida, maka sebenarnya kita telah mencampakkan ajaran anti penjajahan Nabi Musa as alias kitalah yang membunuh Nabi Musa as. Ketika lingkungan, flora dan fauna tiada dihargai dan pembakaran hutan dimana-mana, bisa jadi kitalah yang mencampakkan ajaran dan membunuh Nabi Yahya as. Dan ketika nyawa, kehidupan dan kemanusiaan kita anggap sekedar angka-angka dan tidak bermakna lagi, maka kita telah mengabaikan ajaran Nabi Isa as. Bisa jadi, kitalah yang membunuh Nabi Isa as. Dan masih banyak lagi, jika kupaparkan maka kuping dan otak kalian mungkin akan muak padaku.”
Aktivis 4 : “Kenapa kami harus muak, jika itu sebuah kebenaran Yai.”
Kyai : ”Karena sayyidina Ali ra sudah mengingatkan kami, agar tidak menasehati orang bodoh karena mereka akan membencimu. Beliau berpesan, agar kami menasehati orang-orang berakal, karena mereka akan mencintaimu.”

Berhentilah “membunuh para Nabi”! Mesakke Negeriku.

Profil Pondok Pesantren Modern Selamat Kendal

Pondok Pesantren Modern Selamat adalah bagian dari Yayasan Wakaf Selamat Rahayu. Kurikulum, sistem pengajaran berdasarkan kurikulum dari diknas dan kurikulum pesantren. Saat ini santrinya berjumlah sekitar 2200 orang dan insya Allah akan terus bertambah. Alumninya tersebar di seluruh Indonesia dan melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta.

Pondok Pesantren Modern Selamat ini didirikan sejak tahun 1992 M oleh H. Slamet Soemadyo. Pondok ini merupakan lembaga pendidikan formal yang disertai pendidikan agama dengan tujuan untuk membentuk anak didik yang berakhlakul karimah yang dapat hidup ditengah laju perkembangan ilmu pengetahuan dan tehknologi.

Lembaga pendidikannya dari SMP, SMA. Sekolah-sekolah ini sudah akreditasi A. SMP ada 2 yakni SMP PMS dan SMP Unggulan PMS. Begitu juga SMA ada 2 yakni SMA PMS dan SMA Unggulan PMS. Diakui berkualitas oleh pemerintah dan masyarakat. Yayasan Wakaf Selamat Rahayu mempunyai 2 cabang yaitu di kendal dan batang. Pengembangan yang terus menerus dan berkelanjutan sehingga berdiri Perguruan Tinggi yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Selamat Sri (STIESS) dan Universitas Selamat Sri (UNISS).

Pondok Pesantren Modern Selamat Kendal berdiri diatas tanah seluas 18 Hektar di desa Jambearum Rt 01 Rw 01 Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal. Letaknya di pinggir jalur arteri Pantura Semarang – Batang di Jalan Soekarno-Hatta Km.03.

Sebagai sekolah Islam berasrama yang berkualitas, Pondok Pesantren Modern Selamatpunya banyak sekali kegiatan menarik bagi santri-santrinya. Kegiatan ekstra kurikuler begitu hidup disini. Santri-santrinya baik, sopan, santun, pintar dan berprestasi.

Fasilitas lengkap, bahkan kolam renang pun ada disini. Lahannya luas sekali, sejuk indah dan alami. Udaranya segar, pepohonan hijau dan rimbun. Lingkungan di asrama banyak di bangun taman dan gazebo untuk tempat belajar. Serta sanggar kesenian dan keterampilan banyak didirikan untuk tempat ajang kreatifitas santri.

Pesantren menyediakan tempat bagi tamu yang ingin menginap. Tepatnya di asrama Gondoarum di belakang Masjid Sualman. Fasilitas penginapan ini gratis untuk para Wali santri dan tamu yang berkunjung ke pondok.

Pondok Pesantren Modern Selamat adalah Lembaga Pendidikan Islam yang independen, tidak berafiliasi kepada partai politik atau organisasi masyarakat tertentu. Tidak terlibat / berhubungan dengan kelompok / aliran / ajaran tertentu. Pendidikan agama adalah wajib untuk memberikan bekal terbaik putra-putri kita, mempersiapkan generasi shaleh-shalehah yang akan memberi kebahagiaan bagi orangtua dan keluarga.

Pondok Pesantren Modern Selamat ada progam kajian agama yang rutin dilakukan yaitu kajian Al Qur’an dan Hadis serta kajian tawadlu dan kesantunan. Selain diberikan kajian agama, di pondok pesantren modern selamat juga akan diberikan ketrampilan yang meliputi Tata Boga, Melukis, Sablon dan Tari.

Pondok Pesantren Modern Selamat membuka Pendaftaran Calon Murid Baru Tahun Pelajaran untuk semua jenjang SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Anda bisa datang kapan saja untuk melihat-lihat, survei atau mendaftar. Kami selalu siap melayani Anda. Kantor Penerimaan Murid Baru buka setiap hari, termasuk hari libur juga kami tetap buka. Pelayanan dari jam 07.00 sampai 16.00 WIB.

Ingin Jadi Bagian dari Ponpes.net?

Setahun sudah, saya berjibaku seorang diri dalam mengembangkan sekaligus menyuplai informasi dunia pesantren di website ini. Saya sadar betul, untuk dapat membesarkan website ini, saya tidak bisa sendirian. Oleh karena itu, saya ingin membuka kesempatan bagi teman-teman santri atau alumni di Pondok Pesantren untuk ikut meramaikan website ini dengan menjadi:

  1. Editor untuk konten-konten terkait pesantren dimana teman-teman pernah mondok. Nantinya, teman-teman yang akan bertanggung jawab penuh atas informasi tersebut.
  2. Kontributor artikel, berupa kegiatan pesantren, puisi, cerpen, kisah santri dan lain-lain.
  3. Kontributor multimedia, berupa foto maupun video kegiatan di pesantren teman-teman. Bisa juga berupa quote para ulama atau meme tentang pesantren.

Jika berminat, silakan daftarkan dengan mengisi form berikut.

Saat ini, website Ponpes.net masih saya kelola dengan tujuan untuk sosial, mengabarkan konten-konten dunia pesantren kepada masyarakat yang sedang mencari informasi tentangnya, tanpa ada iklan. Jadi, mohon untuk tidak mengharapkan imbalan berupa material dalam berkontribusi. Mohon dimaklumi. Terima kasih.

Salam,

M Mirza M (Pimred Ponpes.net)

Diskusi #NgajiTeknologi: Sampah, Lingkungan dan Energi Terbarukan

Ponpes.net – Diharapkan kehadiran Saudara dalam diskusi yang bertemakan “Sampah, Lingkungan dan Energi Terbarukan” yang akan dilaksanakan pada hari ini Rabu, 25 April 2018 di Lantai 2 Gedung PBNU (Perpustakaan PBNU), Jalan Kramat Raya No. 164, Jakarta Pusat.

Diskusi akan dimulai pada pukul 14.00 – 17.00 WIB dengan narasumber sebagai berikut.

  1. Dr. Sriwahyono (Peneliti Bidang Sampah BPPT)
  2. Fitria Aryani (Direktur Bank Sampah LPBI PBNU)
  3. KH. Abd. Moqsith Ghozali (LBM PBNU)
  4. Rosa Vivien Ratnawati, SH., M.Sc (Dirjen PSLB3 KLHK RI)

Silakan ajak teman-teman ya 😉

Malam Ijazah dan Mujahadah Kubro

Ponpes.net – Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Dengan memohon rahmat dan ridha Allah Swt., kami bermaksud mengundang Bapak/Ibu dalam acara Malam Ijazah dan Mujahadah Kubro yang akan dilaksanakan pada Ahad, 28 April 2018 jam 19.30. Adapun acara akan digelar di Zawiyah Arraudhah dengan alamat di Jalan Tebet Barat VIII No.50 Tebet Jakarta Selatan.

Mujahadah Kubro Jatman Idaroh Wustho DKI insya Allah akan dihadiri Syekh Dr. Yahya bin Abdurrazzak Ghothani, MA yang merupakan salah satu ulama di Madinah al Munawarah. Beliau memiliki lebih dari 2000 guru bersanad dari ulama seluruh dunia dalam manhaj ahlus sunnah wal jamaah.

Dimohon kehadiran Bapak/Ibu dalam acara tersebut.

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Acara lengkap Syekh Dr. Yahya bin Abdurrazzak Ghothani, MA.

“Jakarta”, Fi’il atau Isim?

Di dapur pondok, terjadi diskusi Nahwu antara Mbah Natshir (santri senior) dan Kang Dun alas Sudrun (santri tengil).

Natshir: “Din, Coba jawab, “ismun” itu kalimah apa?”

Dun: “Ya kalimah isim lah, Kang”

Natshir: “Wah, Pinter sampeyan. Lah kalau “fi’lun” kalimah apa?”

Dun: “Kalimah fi’il”

Natshir: “Salah!!”

Dun: “Lah, gini-gini saya ngaji Jurmiyah khatam 15x dari dulu sampai sekarang, yg namanya fi’lun itu ya kalimah fi’il, Kang!”

Natshir: “Sekali salah ya salah. Fi’lun itu juga kalimah isim, lha wong dibelakangnya ada tanwin. Ingat kata Imam Dawud As-Shonhaji, “Fal ismu yu’rofu bil-khofdli wat-tanwiini wa dukhuulil alifi wal-laami wa khuruufil khofdli

Dun: “Asem kowe, ngerjani orang tua!” Dun mulai berpikir keras.

Setelah menyedot rokok sufi yag terbuat dari tembakau padud serta menyeruput kopi keron bin intip, akhirnya Sudrun mendapat ide.

Dun: “Kang, lafal “Jakarta” itu isim apa fi’il?

Natshir: “Lha pertanyaan seperti itu kok ditanyakan. Ya jelas isim lah.”

Dun: “Salah! ‘Jakarta’ itu kalimah fi’il.”

Natshir: “Dun, sampeyan khatam Jurmiyah 15x lha kok sampeyan bilang ‘Jakarta’ itu kalimah fi’il? Kan sudah jelas ‘Jakarta’ itu nama kota. Itu isim ‘alam, bagian dari isim ma’rifat. Ingat kata Imam Syarofuddin Yahya Al-Imrithi: “Tsaanil ma’arifis syahiiru bil ‘alam # Ka-ja’farin wa-makkata wa kal-harom.”

Dun: “Salah ya salah saja, Kang! Tidak usah ngeyel. Dengerin ya kang. Jakaro-jakaroo-jakaruu-jakarot-jakarotaa-jakarna-JAKARTA. Tuh kan? Jadi ‘Jakarta’ itu fi’il madli mabni ma’lum.”

Natshir: “Hahaha… Dasar bocah gemblung!”

Gagal mengambil konten.