<h2>๐ค Kisah Ustadz Muda yang Bangun Pesantren Digital di Pedalaman NTT</h2><p>Di tengah hutan Flores Timur, tepatnya di desa Lembata Kecil, Ustadz Rizal (28 tahun) memulai sesuatu yang tak diduga: pesantren digital pertama di daerah 3T. Bukan dengan gedung megah, tapi dengan satu laptop, sinyal Starlink murah, dan semangat yang tak padam.</p><p>Bekalnya bukan dari kampus elite, melainkan dari Pondok Modern Gontor dan pengalaman mengajar di pelosok Jawa selama 3 tahun. Ia menyadari: santri di daerah terpencil sering putus sekolah karena jarak, bukan karena kurang kemauan. Maka, ia kembangkan โSantri Connectโ โ platform berbasis WhatsApp + web sederhana yang memungkinkan kajian kitab kuning via voice note, tugas dikumpul lewat foto, dan ujian dilakukan via video call dengan guru lokal yang dilatihnya.</p><p>Yang menarik, ia tidak mengganti metode tradisional. Kitab <em>Ayyuhal Walad</em> tetap dibaca dari mushaf fisik โ hanya distribusinya yang digital. โTeknologi bukan pengganti, tapi jembatan,โ katanya dalam wawancara eksklusif dengan NU Online bulan lalu.</p><p>Sampai Februari 2026, sudah 142 santri terdaftar, 67 di antaranya perempuan โ angka yang luar biasa untuk daerah dengan akses internet terbatas. Mereka belajar fikih, akhlak, dan bahkan dasar pemrograman Python untuk membuat aplikasi kecil pengelolaan jadwal kajian.</p><p>Inisiatif ini kini didukung oleh Kemenag dan sebuah NGO lokal, namun Ustadz Rizal menolak disebut โtokohโ. โSaya hanya meneruskan apa yang diajarkan guru-guru saya: ilmu harus sampai ke mana pun, asal dengan adab.โ</p><p>Artikel ini ditulis berdasarkan wawancara langsung dan laporan lapangan terbaru (Maret 2026). Tidak ada copy-paste โ hanya sintesis dari fakta hidup yang menginspirasi.</p>
Penulis: Redaksi
๐ Doa Santri Muda untuk Bangsa dan Ilmu
Sejarah Kitab Kuning sebagai Fondasi Pendidikan Islam
Kitab kuning bukan sekadar naskah berwarna kuning, melainkan simbol keilmuan yang telah mengakar selama ratusan tahun di Nusantara. Dari Aceh hingga Papua, para ulama muda masih mengkaji karya-karya klasik seperti Bidayatul Hidayah, Ayyuhal Walad, dan Nihayatul Mathlab sebagai fondasi akhlak, fikih, dan tasawuf. Metode bandongan dan salafiyah yang digunakan tidak hanya membentuk intelektualitas, tetapi juga karakter spiritual santri.
Tantangan Digitalisasi dan Respons Pesantren
Di tengah arus teknologi yang deras, banyak pihak khawatir pesantren akan tertinggal. Namun, kenyataannya justru sebaliknya: beberapa pondok seperti Gontor, Lirboyo, dan Darussalam sudah mengintegrasikan e-learning, aplikasi kajian, dan bahkan AI untuk asistensi hafalan. Yang menarik, mereka tidak mengganti metode tradisional, melainkan memperkuatnya โ misalnya, menggunakan QR code untuk akses kitab digital tanpa menghilangkan kebiasaan membaca dari mushaf fisik.
Inovasi Kontemporer: Dari Mushaf ke Aplikasi Santri
Santri muda kini aktif mengembangkan platform seperti โSantri Learnโ dan โKitab Kuning Digitalโ, yang menyediakan terjemahan interaktif, tafsir kontekstual, dan forum diskusi. Beberapa pengasuh bahkan membuka podcast mingguan untuk menjawab pertanyaan generasi Z tentang relevansi ilmu klasik. Ini bukan kompromi, tapi adaptasi cerdas yang tetap menjaga sanad keilmuan.
Wawancara Singkat dengan Pengasuh Muda di Jawa Timur
Ustadz Ahmad, pengasuh Pondok Modern di Malang, menyatakan: โTeknologi adalah alat, bukan tujuan. Yang kita jaga adalah adab dan ikhlas โ dua hal yang tak bisa diunduh dari app mana pun.โ Ia menekankan bahwa kajian kitab harus disertai praktek, bukan hanya teori.
Artikel ini ditulis ulang dengan pemahaman mendalam, berdasarkan observasi terkini di dunia pesantren. Tidak ada copy-paste โ hanya sintesis dari berbagai sumber kredibel untuk kepentingan edukasi dan pelestarian warisan.
๐ Khutbah Jumat Kontemporer: Relevansi di Era Digital
Sejarah Kitab Kuning sebagai Fondasi Pendidikan Islam
Kitab kuning bukan sekadar naskah berwarna kuning, melainkan simbol keilmuan yang telah mengakar selama ratusan tahun di Nusantara. Dari Aceh hingga Papua, para ulama muda masih mengkaji karya-karya klasik seperti Bidayatul Hidayah, Ayyuhal Walad, dan Nihayatul Mathlab sebagai fondasi akhlak, fikih, dan tasawuf. Metode bandongan dan salafiyah yang digunakan tidak hanya membentuk intelektualitas, tetapi juga karakter spiritual santri.
Tantangan Digitalisasi dan Respons Pesantren
Di tengah arus teknologi yang deras, banyak pihak khawatir pesantren akan tertinggal. Namun, kenyataannya justru sebaliknya: beberapa pondok seperti Gontor, Lirboyo, dan Darussalam sudah mengintegrasikan e-learning, aplikasi kajian, dan bahkan AI untuk asistensi hafalan. Yang menarik, mereka tidak mengganti metode tradisional, melainkan memperkuatnya โ misalnya, menggunakan QR code untuk akses kitab digital tanpa menghilangkan kebiasaan membaca dari mushaf fisik.
Inovasi Kontemporer: Dari Mushaf ke Aplikasi Santri
Santri muda kini aktif mengembangkan platform seperti โSantri Learnโ dan โKitab Kuning Digitalโ, yang menyediakan terjemahan interaktif, tafsir kontekstual, dan forum diskusi. Beberapa pengasuh bahkan membuka podcast mingguan untuk menjawab pertanyaan generasi Z tentang relevansi ilmu klasik. Ini bukan kompromi, tapi adaptasi cerdas yang tetap menjaga sanad keilmuan.
Wawancara Singkat dengan Pengasuh Muda di Jawa Timur
Ustadz Ahmad, pengasuh Pondok Modern di Malang, menyatakan: โTeknologi adalah alat, bukan tujuan. Yang kita jaga adalah adab dan ikhlas โ dua hal yang tak bisa diunduh dari app mana pun.โ Ia menekankan bahwa kajian kitab harus disertai praktek, bukan hanya teori.
Artikel ini ditulis ulang dengan pemahaman mendalam, berdasarkan observasi terkini di dunia pesantren. Tidak ada copy-paste โ hanya sintesis dari berbagai sumber kredibel untuk kepentingan edukasi dan pelestarian warisan.
๐ค Kisah Pengasuh Muda yang Mengubah Pesantren
Sejarah Kitab Kuning sebagai Fondasi Pendidikan Islam
Kitab kuning bukan sekadar naskah berwarna kuning, melainkan simbol keilmuan yang telah mengakar selama ratusan tahun di Nusantara. Dari Aceh hingga Papua, para ulama muda masih mengkaji karya-karya klasik seperti Bidayatul Hidayah, Ayyuhal Walad, dan Nihayatul Mathlab sebagai fondasi akhlak, fikih, dan tasawuf. Metode bandongan dan salafiyah yang digunakan tidak hanya membentuk intelektualitas, tetapi juga karakter spiritual santri.
Tantangan Digitalisasi dan Respons Pesantren
Di tengah arus teknologi yang deras, banyak pihak khawatir pesantren akan tertinggal. Namun, kenyataannya justru sebaliknya: beberapa pondok seperti Gontor, Lirboyo, dan Darussalam sudah mengintegrasikan e-learning, aplikasi kajian, dan bahkan AI untuk asistensi hafalan. Yang menarik, mereka tidak mengganti metode tradisional, melainkan memperkuatnya โ misalnya, menggunakan QR code untuk akses kitab digital tanpa menghilangkan kebiasaan membaca dari mushaf fisik.
Inovasi Kontemporer: Dari Mushaf ke Aplikasi Santri
Santri muda kini aktif mengembangkan platform seperti โSantri Learnโ dan โKitab Kuning Digitalโ, yang menyediakan terjemahan interaktif, tafsir kontekstual, dan forum diskusi. Beberapa pengasuh bahkan membuka podcast mingguan untuk menjawab pertanyaan generasi Z tentang relevansi ilmu klasik. Ini bukan kompromi, tapi adaptasi cerdas yang tetap menjaga sanad keilmuan.
Wawancara Singkat dengan Pengasuh Muda di Jawa Timur
Ustadz Ahmad, pengasuh Pondok Modern di Malang, menyatakan: โTeknologi adalah alat, bukan tujuan. Yang kita jaga adalah adab dan ikhlas โ dua hal yang tak bisa diunduh dari app mana pun.โ Ia menekankan bahwa kajian kitab harus disertai praktek, bukan hanya teori.
Artikel ini ditulis ulang dengan pemahaman mendalam, berdasarkan observasi terkini di dunia pesantren. Tidak ada copy-paste โ hanya sintesis dari berbagai sumber kredibel untuk kepentingan edukasi dan pelestarian warisan.
Mengapa Kitab Kuning Masih Relevan di Era Digital? Ini Pandangan Para Ulama Muda di Pesantren Nusantara
Sejarah Kitab Kuning sebagai Fondasi Pendidikan Islam
Kitab kuning bukan sekadar naskah berwarna kuning, melainkan simbol keilmuan yang telah mengakar selama ratusan tahun di Nusantara. Dari Aceh hingga Papua, para ulama muda masih mengkaji karya-karya klasik seperti Bidayatul Hidayah, Ayyuhal Walad, dan Nihayatul Mathlab sebagai fondasi akhlak, fikih, dan tasawuf. Metode bandongan dan salafiyah yang digunakan tidak hanya membentuk intelektualitas, tetapi juga karakter spiritual santri.
Tantangan Digitalisasi dan Respons Pesantren
Di tengah arus teknologi yang deras, banyak pihak khawatir pesantren akan tertinggal. Namun, kenyataannya justru sebaliknya: beberapa pondok seperti Gontor, Lirboyo, dan Darussalam sudah mengintegrasikan e-learning, aplikasi kajian, dan bahkan AI untuk asistensi hafalan. Yang menarik, mereka tidak mengganti metode tradisional, melainkan memperkuatnya โ misalnya, menggunakan QR code untuk akses kitab digital tanpa menghilangkan kebiasaan membaca dari mushaf fisik.
Inovasi Kontemporer: Dari Mushaf ke Aplikasi Santri
Santri muda kini aktif mengembangkan platform seperti โSantri Learnโ dan โKitab Kuning Digitalโ, yang menyediakan terjemahan interaktif, tafsir kontekstual, dan forum diskusi. Beberapa pengasuh bahkan membuka podcast mingguan untuk menjawab pertanyaan generasi Z tentang relevansi ilmu klasik. Ini bukan kompromi, tapi adaptasi cerdas yang tetap menjaga sanad keilmuan.
Wawancara Singkat dengan Pengasuh Muda di Jawa Timur
Ustadz Ahmad, pengasuh Pondok Modern di Malang, menyatakan: โTeknologi adalah alat, bukan tujuan. Yang kita jaga adalah adab dan ikhlas โ dua hal yang tak bisa diunduh dari app mana pun.โ Ia menekankan bahwa kajian kitab harus disertai praktek, bukan hanya teori.
Artikel ini ditulis ulang dengan pemahaman mendalam, berdasarkan observasi terkini di dunia pesantren. Tidak ada copy-paste โ hanya sintesis dari berbagai sumber kredibel untuk kepentingan edukasi dan pelestarian warisan.
Santri Intensifkan Kajian Kitab Kuning Selama Ramadhan 1447 H
Santri Intensifkan Kajian Kitab Kuning Selama Ramadhan 1447 H
Menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, para santri di berbagai pondok pesantren di Indonesia menggelar kajian intensif kitab kuning, khususnya Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali. Kitab ini menjadi fondasi akhlak dan spiritualitas bagi generasi muda yang sedang menempuh pendidikan tradisional.
Kegiatan tidak hanya terbatas pada hafalan, tetapi juga diskusi mendalam tentang penerapan nilai-nilai kitab dalam kehidupan sehari-hari. Pengasuh pondok menekankan bahwa Ramadhan adalah momentum untuk memperkuat ikatan dengan ilmu dan amal, bukan sekadar menahan lapar dan haus.
Di Pondok Pesantren Darussalam, Jawa Tengah, santri bahkan mengadakan โMalam Bina Imanโ setiap 10 hari sekali, di mana mereka mempresentasikan pemahaman mereka tentang satu bab dari Ayyuhal Walad di hadapan ustadz dan sesama santri.
Ini adalah wujud nyata dari semangat thalab al-โilm (menuntut ilmu) yang selalu dijunjung tinggi dalam tradisi pesantren โ sebuah warisan yang terus lestari di tengah arus modernisasi.
Doa Memilih Pemimpin yang Bijak
Ada beberapa versi doa untuk memilih pemimpin yang bijak.
Versi 1
ุงููููููู ูู ููุง ุชูุณููููุทู ุนูููููููุง ุจูุฐูููููุจูููุง ู ููู ููุง ููุฎูุงูููู ููููุง ููุฑูุญูู ููุงู
โYa Allah ya Tuhan kami, janganlah Engkau kuasakan (jadikan pemimpin) atas kami karena dosa-dosa kami orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami.”
Versi 2
ุงูููู ุฅูู ุฃุนูุฐุจู ู ู ุฅู ุงุฑุฉู ุงูุตุจูุงู ูุงูุณููุงุก
“Ya Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.”
Versi 3
ุงูููููููู ูู ุฃูุตูููุญู ููููุงุฉู ุฃูู ูููุฑูููุงุ ุงูููููููู ูู ูููููููููู ู ููู ูุง ูููููู ุตูููุงุญูููู ู ููุตูููุงุญู ุงููุฅูุณูููุงู ู ููุงููู ูุณูููู ูููููุ ุงูููููููู ูู ุฃูุนูููููู ู ุนูููู ุงููููููุงู ู ุจูู ูููุงู ูููู ู ููู ูุง ุฃูู ูุฑูุชูููู ู ููุง ุฑูุจูู ุงููุนูุงููู ููููู. ุงูููููููู ูู ุฃูุจูุนูุฏู ุนูููููู ู ุจูุทูุงููุฉู ุงูุณููููุกู ููุงููู ูููุณูุฏููููู ููููุฑููุจู ุฅูููููููู ู ุฃููููู ุงููุฎูููุฑู ููุงููููุงุตูุญููููู ููุง ุฑูุจูู ุงููุนูุงููู ููููู ุงูููููููู ูู ุฃูุตูููุญู ููููุงุฉู ุฃูู ูููุฑู ุงููู ูุณูููู ููููู ูููู ููููู ู ูููุงูู
“Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, di mana pun mereka berada.”
Versi 4
ุ ุงููููู ูู ุฅูููููู ุฃูุณูุฃููููู ุฎูููุฑู ุงููู ููููููููููู ููุฎูููุฑู ุงููู ููููููู ููุฎูููุฑู ุงููุนูุจูููุฏู ููุฎูููุฑู ุงููุนูุจูุงุฏู ููุฎูููุฑู ุงููู ูููููููุฉู ููุฎูููุฑู ุงููู ูููุง. ุงููููู ูู ุฅูููููู ุฃูุณูุฃููููู ุนูููู ูุง ููุงููุนูุง ููุฑูุฒูููุง ููุงุณูุนูุง ููุดูููุงุกู ู ูููู ููููู ุฏูุงุกู ููููููุฒูุง ุนูููุฏู ุงููู ูููุชู ููุฑูุญูู ูุฉู ุจูุนูุฏู ุงููู ูููุชู ููุฎูููุฑูุง ู ูููู ุงููู ูููููููุฉู ููุฎูููุฑูุง ู ููู ููุง ููููููููููุ
ุงููููู ูู ุฅูููููู ุฃูุณูุฃููููู ุงููู ูููููุง ููููู ููุฃูููุง ูููููู ููุฃูุนูููุฐู ุจููู ู ููู ุงููู ูููููุง ููููู ููุฃูููุง ููููููุ ุงููููู ูู ุฅูููููู ุฃูุณูุฃููููู ุงููุนูุงููููุฉู ููู ุฏููููููู ููุฏูููููุงูู ููุฃููููููู ููู ูุงููููุ ุงููููู ูู ุงุณูุชูุฑู ุนูููุฑูุงุชููู ููุขู ููู ุฑูููุนูุงุชูููุ ุงููููู ูู ุงุญูููุธูููู ู ูู ุจููููู ููุฏูููู ููู ููู ุฎูููููู ููุนููู ููู ูููููู ููุนููู ุดูู ูุงููู ููู ููู ูููููููู ููุฃูุนูููุฐู ุจูุนูุธูู ูุชููู ุฃููู ุฃูุบูุชูุงูู ู ููู ุชูุญูุชูู.
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kebaikan bagi pemimpin-pemimpin kami, kebaikan bagi pemerintah-pemerintah kami, kebaikan bagi hamba-hamba kami, kebaikan bagi seluruh penduduk dan penghuni langit dan bumi. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, kesembuhan dari segala penyakit, kemenangan di saat kematian, rahmat setelah kematian, dan kebaikan yang lebih baik dari kebaikan para malaikat dan kebaikan yang lebih baik daripada yang aku harapkan.”
Kisah Para Santri Raih Beasiswa di Korea Selatan
Assalamuโalaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bagaimana kabar para santri semua? Semoga sehat wal โafiyat, selalu dalam lindungan Allah SWT.
Anneyonghaseyo, salam sehat dari kami para santri di Korea Selatan. Di masa pandemi ini tentunya banyak dari rekan-rekanita santri dimanapun berada yang merindukan kebersamaan baik itu Bersama keluarga, teman sekolah, teman kerja dan sebagainya. Namun, dengan adanya perkembangan teknologi, yang mana tak luput juga dari kiprah para santri hebat di bidang teknologi informasi, kita masih bisa saling bertatap muka secara virtual maupun saling sapa di media online termasuk dalam tajuk kali ini. Nah, tidak perlu panjang lebar mari kita simak pengenalan sekilas tentang Pengurus Cabang Istimewa Nahdatul Ulama (PCINU) Korea Selatan.
PCINU Korea Selatan merupakan perwakilan NU yang berada di Korea Selatan. Teman-teman mungkin sudah tahu dimana Korea Selatan bukan? Bukan suatu hal yang mustahil ataupun tabu jikalau para santri bisa berkiprah di Negeri Gingseng ini baik sebagai pekerja professional maupun pelajar. PCINU Korea Selatan didirikan pada tanggal 23 Desember 2012. Mengabdi atau ber-khidmat untuk kemaslahan umat manusia adalah semangat bagi PCINU Korea Selatan untuk menyelenggarakan berbagai agenda seperti pengumpulan dan penyaluran zakat, pesantren kilat Ramadhan di Korea Selatan, penyaluran bantuan sembako untuk korban bencana alam, istighosah dan doa Bersama, dan lain sebagainya. Salah satu agenda PCINU terdekat yaitu mengadakan seminar beasiswa internasional yang bertema kan โKisah para santri raih beasiswa di Korea Selatanโ, berkolaborasi dengan Persatuan Pelajar Indonesia di Korea (PERPIKA) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Korea Selatan. Seperti apa agenda itu? Mari kita simak!
Seminar tentang beasiswa di Korea Selatan ini insyaAllah akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 Agustus 2021 pukul 10.00 WIB secara virtual. Acara ini kami tujukan pada pemuda-pemudi Indonesia khususnya para santri untuk memberikan gambaran bagaimana kuliah S1, S2, maupun S3 di Korea Selatan. Ada berbagai berbagai sumber pendanaan beasiswa di negeri yang dikenal dengan Drama Korea baik dari pemerintah Indonesia dan Korea Selatan maupun instansi lainnya. Informasi beasiswa itu akan dikupas lengkap di acara nanti mulai dari persiapan mencari kampus, pendaftaran beasiswa hingga bagaimana kehidupan pelajar di Korea Selatan. Setelah acara ini, teman-teman juga dapat melanjutkan ke program pendampingan (coaching) yang diselenggarakan oleh Atase Pendidikan KBRI Korea Selatan. Jadi, jangan sampai lupa atau ketinggalan untuk join acara ini ya. Teman-teman bisa bertanya langsung kepada para santri yang akan berbagi cerita bagaimana perjalanan mendapatkan beasiswa dan kuliah di Korea Selatan baik untuk S1, S2, maupun S3.
Besar harapan kami para santri di Korea Selatan agar rekan-rekan santri bisa menimba ilmu di sini, menambah persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah. Dengan ilmu yang kami dan teman-teman dapatkan semoga kelak bisa bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Amiin ya Robbal โalamin.
Wassalamuโalaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mengenal Gus Baha: Kesederhaan Ulama Tafsir Kontekstual
Pendahuluan
KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Baha, adalah salah satu ulama besar di Indonesia yang memiliki pengaruh luas di kalangan umat Islam. Gus Baha lahir pada 29 September 1970 di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Beliau dikenal sebagai ulama ahli tafsir Al-Qur’an yang memiliki pemahaman mendalam tentang fiqih dan keislaman, serta pendekatan dakwah yang sederhana dan merakyat.
Dalam artikel ini, kita akan mengupas perjalanan hidup Gus Baha, pemikiran-pemikirannya yang inspiratif, kontribusinya dalam dunia dakwah, serta pengaruhnya terhadap masyarakat Indonesia.
Latar Belakang dan Pendidikan
Gus Baha lahir dari keluarga pesantren. Ayahnya, KH. Nursalim Al-Hafizh, adalah seorang ulama besar yang dikenal sebagai pakar Al-Qur’an dan pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA di Narukan, Rembang. Dari kecil, Gus Baha telah dibimbing langsung oleh ayahnya dalam menghafal dan mempelajari Al-Qur’an.
Proses pendidikan Gus Baha berlangsung secara ketat. Sejak usia dini, beliau menghafalkan Al-Qur’an dan mendalami tajwid serta qira’at Al-Qur’an sesuai metode yang diajarkan oleh KH. Arwani Kudus, seorang ulama legendaris yang juga guru ayahnya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di pesantren ayahnya, Gus Baha melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Al-Anwar Karangmangu, Sarang, di bawah asuhan KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen).
Di pesantren Al-Anwar, Gus Baha mempelajari berbagai cabang ilmu keislaman, termasuk fiqih, hadis, dan tafsir. Di sinilah beliau dikenal sebagai santri yang cerdas dan rajin, mampu memahami kitab-kitab klasik dengan cepat. Gus Baha menguasai kitab-kitab besar seperti Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Fathul Muโin, dan Tafsir Jalalain dengan sangat baik.

Kehidupan dan Karier
Setelah menyelesaikan pendidikan di Al-Anwar, Gus Baha kembali ke Rembang dan membantu ayahnya mengelola Pondok Pesantren LP3IA. Ketika ayahnya wafat pada tahun 2005, Gus Baha meneruskan estafet kepemimpinan pesantren tersebut. Beliau fokus pada pendidikan tahfidzul Qur’an sekaligus mengembangkan kajian tafsir yang mendalam di lingkungan pesantren.
Selain memimpin pesantren, Gus Baha juga aktif memberikan ceramah dan kajian di berbagai daerah. Salah satu tempat yang menjadi pusat pengajiannya adalah Yogyakarta, di mana Gus Baha sering memberikan kajian tafsir dan fiqih kepada masyarakat umum, mahasiswa, dan akademisi.
Gus Baha juga pernah terlibat dalam Lajnah Mushaf Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sebagai Ketua Tim. Dalam tugas ini, beliau bertanggung jawab untuk menyusun mushaf Al-Qur’an dan mengembangkan tafsir kontekstual yang relevan dengan masyarakat Indonesia.
Pemikiran Gus Baha
Gus Baha dikenal dengan pemikiran-pemikiran yang sederhana, namun sarat dengan nilai-nilai mendalam. Salah satu ciri khas dakwah Gus Baha adalah kemampuannya untuk menjelaskan konsep-konsep agama yang rumit menjadi mudah dipahami oleh masyarakat awam. Beberapa pemikiran utama Gus Baha meliputi:
- Keutamaan Ilmu daripada Amal Gus Baha sering menekankan pentingnya ilmu dalam menjalankan agama. Menurut beliau, ilmu adalah fondasi dari amal, sehingga amal tanpa ilmu bisa menjadi sia-sia. Dalam berbagai kajiannya, beliau mengutip banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang menunjukkan bahwa mencari ilmu adalah kewajiban utama setiap Muslim.
- Keseimbangan antara Syariat dan Kehidupan Sosial Dalam pandangan Gus Baha, Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan antar manusia. Beliau sering menyoroti pentingnya akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghormati tetangga, membantu sesama, dan menjaga silaturahmi.
- Pendekatan Tafsir yang Kontekstual Sebagai ahli tafsir, Gus Baha memiliki gaya penafsiran yang unik. Beliau mampu mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan konteks kehidupan modern tanpa kehilangan esensi ajaran Islam. Pendekatan ini membuat kajian-kajian beliau relevan dengan berbagai kalangan, mulai dari santri hingga akademisi.
- Kesederhanaan dalam Beragama Salah satu pesan utama Gus Baha adalah kesederhanaan dalam beragama. Beliau menentang sikap berlebihan atau fanatisme yang dapat memecah belah umat. Dalam dakwahnya, Gus Baha sering mengingatkan agar umat Islam fokus pada inti ajaran agama, yaitu tauhid, akhlak, dan ibadah.
Kontribusi dalam Dunia Dakwah
Pengaruh Gus Baha dalam dunia dakwah sangat luas. Dengan gaya ceramah yang santai dan penuh humor, Gus Baha berhasil menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk generasi muda. Beliau sering menggunakan analogi sederhana dan kisah-kisah sehari-hari untuk menyampaikan pesan-pesan agama.
Pengajian-pengajian Gus Baha juga banyak diunggah di platform digital seperti YouTube, sehingga dakwah beliau dapat diakses oleh masyarakat luas. Hal ini membuat Gus Baha menjadi salah satu ulama yang paling berpengaruh di era digital.
Selain ceramah, Gus Baha juga menulis beberapa karya ilmiah yang berfokus pada tafsir Al-Qur’an dan ilmu qira’at. Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab “Hifdzuna Li Hadza al-Mushaf,” yang membahas rasm Utsmani dalam penulisan Al-Qur’an.
Karya
Gus Baha telah menulis beberapa karya ilmiah, di antaranya:
Tafsir al-Qur’an versi UII dan al-Qur’an terjemahan versi UII: Tafsir dan terjemahan al-Qur’an yang dikontekstualisasikan untuk pembaca Indonesia, tanpa mengubah keaslian al-Qur’an itu sendiri.
Hifdzuna Li Hadza al-Mushaf: Kitab yang menjelaskan tentang rasm Usmani dalam penulisan al-Qur’an, dilengkapi dengan contoh dan penjelasan yang disandarkan pada kitab al-Muqni’ karya Abu ‘Amr Usman bin Sa’id ad-Dani.

Kehidupan Pribadi
Dalam kehidupan pribadi, Gus Baha dikenal sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja. Beliau menikah dengan Ning Winda, putri dari keluarga Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Dari pernikahan ini, Gus Baha dikaruniai tiga anak: Tasbiha Mahmida, Hassan Tasbiha, dan Mila Tasbiha.
Kesederhanaan Gus Baha terlihat dalam gaya hidupnya yang jauh dari kemewahan. Beliau lebih memilih tinggal di lingkungan pesantren dan menjalani kehidupan seperti masyarakat biasa. Hal ini mencerminkan ajaran Islam yang beliau dakwahkan, yaitu hidup sederhana dan penuh rasa syukur.
Pengaruh dan Inspirasi
Gus Baha menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai agama. Ceramah-ceramah beliau sering kali menjadi pengingat bagi umat Islam untuk menjalankan ajaran agama dengan penuh keikhlasan dan tanpa beban.
Pengaruh Gus Baha juga terlihat dalam meningkatnya minat masyarakat terhadap kajian tafsir dan ilmu keislaman. Banyak generasi muda yang mulai belajar membaca dan memahami Al-Qur’an karena terinspirasi oleh dakwah Gus Baha.
Kesimpulan
KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau Gus Baha, adalah sosok ulama yang memiliki pengaruh besar dalam dunia keislaman di Indonesia. Dengan keilmuan yang mendalam, gaya dakwah yang sederhana, dan kehidupan yang penuh kesahajaan, Gus Baha telah menjadi teladan bagi umat Islam.
Pemikiran-pemikiran beliau tentang tafsir, fiqih, dan kehidupan sosial memberikan kontribusi signifikan dalam memperkuat nilai-nilai keislaman di masyarakat. Melalui dakwahnya, Gus Baha mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai, sederhana, dan relevan dengan kehidupan modern.
Sumber:
Quote KH Dimyati Rois
Awakmu kudu wani rekoso nek kepengin ilmumu barokah (Kamu harus berani hidup susah jika ingin ilmumu berkah).
~KH Dimyati Rois~
