Santri Intensifkan Kajian Kitab Kuning Selama Ramadhan 1447 H

Santri Intensifkan Kajian Kitab Kuning Selama Ramadhan 1447 H

Menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, para santri di berbagai pondok pesantren di Indonesia menggelar kajian intensif kitab kuning, khususnya Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali. Kitab ini menjadi fondasi akhlak dan spiritualitas bagi generasi muda yang sedang menempuh pendidikan tradisional.

Kegiatan tidak hanya terbatas pada hafalan, tetapi juga diskusi mendalam tentang penerapan nilai-nilai kitab dalam kehidupan sehari-hari. Pengasuh pondok menekankan bahwa Ramadhan adalah momentum untuk memperkuat ikatan dengan ilmu dan amal, bukan sekadar menahan lapar dan haus.

Di Pondok Pesantren Darussalam, Jawa Tengah, santri bahkan mengadakan “Malam Bina Iman” setiap 10 hari sekali, di mana mereka mempresentasikan pemahaman mereka tentang satu bab dari Ayyuhal Walad di hadapan ustadz dan sesama santri.

Ini adalah wujud nyata dari semangat thalab al-‘ilm (menuntut ilmu) yang selalu dijunjung tinggi dalam tradisi pesantren — sebuah warisan yang terus lestari di tengah arus modernisasi.

Apa Itu Pondok Pesantren?

Pondok Pesantren biasa disingkat dengan Ponpes, Pontren atau PP merupakan sebuah tempat belajar. Di sanalah para santri ditempa dan dididik oleh para asatidz dan para kiai dalam memahamkan pelbagai ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama Islam. Segudang keilmuan ditawarkan di Ponpes, mulai dari cara membaca kitab atau biasa disebut ilmu alat (nahwu dan sharaf), matematika (ilmu hisab) hingga astronomi (ilmu falak). Selain itu, pengetahuan mengenai pertanian, peternakan, otomotif, literasi hingga public speakingjuga bisa didapatkan di Ponpes. Komplit!

Banyak santri jebolan Ponpes yang dapat bersaing di dunia kerja maupun profesional. Selain keuletan yang bersangkutan, faktor doa dari para guru di pesantren juga tidak patut untuk dinafikan. Keberkahan yang oleh para santri dicari melalui gurunya, menjadikannya orang yang sukses ketika sudah keluar dari dunia pesantren.

Metode pembelajaran di Ponpes juga menunjang para santri untuk memahami pelajaran yang didapat. Ya, metode pengajaran di masing-masing pesantren pastilah berbeda. Masih ingat dengan mantra Man jadda wajada yang oleh A. Fuadi dituliskan menjadi sebuah buku? Di buku yang juga difilmkan itu mengisahkan metode cara menghafal mufradat (kata dalam bahasa Arab) dan motivasi para guru yang dapat membangkitkan kepercayaan diri para santri. Di buku tersebut juga menggambarkan kisah kehidupan di lingkungan pesantren dari pagi sampai malam.

Ilustrasi para santri. Sumber: kompasiana

Banyak santri yang masih belia dipondokkan orang tuanya. Banyak yang bersedih karena tidak diperbolehkan pulang dalam waktu tertentu. Bagaimana seorang santri dididik agar dapat survive ketika jauh dari orang tuanya? Padahal sejak bayi hingga sekolah selalu tinggal bersama orang tua. Pesantren mengajarkan semuanya sehingga tidak menjadikan para santri generasi cengeng.

Para santri menyebut Pondok Pesantren adalah sebagai Penjara Suci. Mengapa penjara? Karena banyak sekali aturan di Ponpes yang mengikat para santri untuk tidak melanggarnya. Sangat tertutup dan tidak bebas. Namun, percayalah, Anda akan mengambil banyak sekali hikmah dan pelajaran dibalik itu semua.

Dunia pesantren sangatlah majemuk. Berbagai macam tipe orang berbaur dan menyatu mengikuti komando Sang Kiai untuk mendapatkan berkah dan ilmunya membekas (atsar). Kesadaran pribadi dan keteladanan para guru menjadikan para santri tetap takdzim.

Jika masih bingung dengan beberapa istilah diatas, silakan cek kamusnya di link berikut.

Ayo Mondok! Menjadi santri itu keren.

Gagal mengambil konten.