Direktori dan Informasi Pondok Pesantren di Nusantara
Penulis: Redaksi
Pengatur lalu lintas konten yang berlalu-lalang di website ini, termasuk menyunting berbagai artikel yang masuk via email. Ingin mengirim artikel tentang dunia pesantren? Bisa melalui ponpesnet[at]gmail[dot]com
Pondok Pesantren Tahfidz Al-Quran de Muttaqin terletak di Jl. Beringin No. 88, RT. 05/RW.02, Denokan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Saat ini, Ponpes de Muttaqin sedang membuka pendaftaran Santri Baru tahun ajaran 2017-2018. Semua biaya selama mondok: GRATIS! Syarat utamanya adalah anak yatim atau dhuafa.
Pendaftaran Santri Baru diperuntukkan bagi siswa SD kelas 1, 2 dan 3, tahun ajaran 2017/2018. Kelasnya pun akan dilakukan secara intensif, yakni hanya 12 santri perkelasnya.
FASILITAS
1. Asrama yang kondusif
2. Makan bergizi 3 kali sehari dan susu
3. Seragam sekolah & olahraga
4. Rekreasi setiap bulan
Target setelah tamat SD:
Dapat beribadah dengan benar
Berakhlak mulia
Hafal 30 Juz Al-Quran
Hafal 500 hadits
Menguasai Bahasa Arab
Menguasai Bahasa Inggris
Lulus SD dengan nilai memuaskan
Adapun, syarat yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut.
1. Memiliki semangat untuk menghafal Al-Quran
2. Dapat membaca Al-Quran dengan lancar
3. Dapat membaca dan menulis bahasa Indonesia
4. Sudah terbiasa makan dan mandi sendiri serta
tidak sering mengompol
5. Bersedia mematuhi peraturan pesantren
JADWAL PENDAFTARAN
Gelombang I
Pendaftaran : 1 Mei– 16 Juli 2017
Ujian seleksi : 22-23 Juli 2017
Pengumuman Hasil Ujian : 31 Juli 2017
Gelombang II*
Penerimaan Santri gelombang kedua bersifat fleksibel waktunya, dengan catatan calon santri yang mendaftar memenuhi kriteria yang telah ditetapkan Pesantren de Muttaqin. Untuk informasi lebih lanjut, wali calon santri dapat menghubungi langsung sekretariat Pondok Pesantren de Muttaqin.
PROSEDUR PENDAFTARAN
1. Mendownload formulir pendaftaran via online, klik disini untuk mengunduh filenya.
2. Mengirimkan berkas pendaftaran yang meliputi :
a) Hasil cetak formulir pendaftaran online yang sudah diisi dan dilengkapi persyaratan yang diminta
b) Pas foto calon santri hitam putih ukuran 3 x 4 sebanyak 2 lembar dan 2 x 3 sebanyak 2 lembar
c) Fotokopi rapor kelas 1 (untuk calon santri kelas 2), atau fotokopi rapor kelas 2 (untuk calon santri kelas 3)
d) Fotokopi Kartu Keluarga
e) Fotokopy akte kelahiran
f) Surat keterangan sehat dari puskesmas/dokter setempat
g) Surat keterangan kematian ayah (bagi anak yatim)
h) Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari RT/RW/Lurah-desa setempat (bagi dhuafa/miskin)
3. Seluruh berkas di atas dimasukkan ke dalam amplop coklat ukuran folio dan dikirim ke pesantren sesuai jadwal pendaftaran yang tersebut di atas
4. Calon santri yang lolos seleksi berkas, akan dihubungi panitia untuk melakukan tes tertulis, hafalan, dan wawancara di Yogyakarta.
PANITIA TIDAK MENSYARATKAN BIAYA APAPUN.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi nomor dibawah ini.
0817 3828 57
0812 2345 6735
0816 6525 86
Ponpes.net – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng Pondok Pesantren (ponpes) untuk meggelar pasar murah. Ada 300 ponpes di seluruh Indonesia yang menjadi mitra Kemendag.
Sebanyak 1.000 paket sembako dijual di tempat tersebut. Warga cukup membayar Rp 50 ribu untuk seluruh paket berisi minyak goreng, tepung terigu, gula, dan beras itu seharga Rp 100 ribu. Kegiatan ini dinilai sangat membantu warga belum sejahtera dalam mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau.
Melalui perwakilannya, Ponpes Al-Muayyad yang berada di Mangkuyudan, Purwosari, Laweyan, Solo mengatahakan bahwa pasar murah kali berbeda dari biasanya.
“Seluruh hasil penjualan akan diserahkan ke pondok agar digunakan untuk kepentingan santri dan umat. Kalau dari sisi masyarakat saya tanya, mereka senang sekali dan merasa terbantu,” terang Muhammad Aminuddin.
Dia menambahkan, pasar murah dapat merekatkan hubungan sesama muslim, bahkan antarumat beragama. Pasalnya, pasar murah dibuka untuk umum. Semua lapisan masyarakat bisa memperolehnya.
“Harapannya pasar murah bisa merekatkan persatuan. Ini tidak hanya untuk muslim saja, tapi juga nonmuslim. Untuk membantu masyarakat jangan pilih-pilih,” ujarnya.
Pasar murah di Al-Muayyad digelar Kamis sejak sore. Sedangkan penyerahan hasil pasar murah dilakukan malam harinya oleh Staf Khusus Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Peningkatan Sarana Perdagangan, Eva Yuliana kepada perwakilan ponpes.
Eva menyampaikan pihaknya menyerahkan 1.000 paket sembako ke ponpes Al-Muayyad untuk didistribusikan ke masyarakat. Satu paket bernilai Rp 110 ribu, namun dijual seharga Rp 50 ribu.
“Dengan seperti ini, pasar murah menjadi punya nilai tambah. Ada nilai sedekahnya. Nanti hasilnya boleh dipakai untuk kebutuhan pesantren. Sarana pendidikan itu kan banyak, ada sarana fisik dan ada sarana non fisik,” tandasnya.
Ponpes.net – Salah satu Kiai yang dalam berdakwah menyelipkan humor-humor ringan dan paling viral di jagad media sosial saat ini adalah KH. Anwar Zahid. Selain dakwahnya, informasi tentang gratisnya mondok di Pesantren Pesantren (ponpes) yang diasuhnya juga sedang ramai dibicarakan.
Iya, Ponpes As-Syafi’iyah namanya, sebuah pesantren berbasis Bahasa dan Al-Quran. Terletak di Jalan Masjid Baitul Abidin – Simo RT. 03 RW. 04, Simorejo, Kanor, Bojonegoro, Jawa Timur, bangunan untuk Pondok Pesantren, Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) ini didirikan.
Saat ini jumlah santri KH. Anwar Zahid baru sebanyak 400 santri lebih. Santri laki-laki 150 orang, sedangkan sisanya adalah santri perempuan.
Brosur Ponpes As-Syafi’iyah. Sumber: twitter.
Kebanyakan santri yang diasuhnya merupakan anak-anak transmigrasi yang masih minim dalam pengetahuan tentang agama Islam. Selain itu, mayoritas santrinya juga merupakan anak yatim dan anak-anak yang kurang mampu. Mereka berasal dari daerah Sumatera, Jambi, Palu, Riau, Papua serta beberapa daerah lain di luar pulau Jawa.
Banyak sekali motivasi para santri yang ingin mondok di Ponpes Kiai kelahiran tahun 1974 di daerah Bojonegoro ini. Salah satu niat mereka adalah karena termotivasi ingin bisa ceramah seperti Anwar.
Kiai yang mempunyai julukan Kiai Qulhu ini berharap santri yang dididiknya kelak akan dapat memperjuangkan agama Islam di tanah kelahirannya. Ia juga mengajak anak-anak yang kurang mampu yang ingin belajar agama Islam untuk mondok di tempatnya.
“Saya siap menampung anak-anak yang memang kurang mampu, khususnya anak-anak yatim piatu. Saya gratiskan sekolah dan ngajinya,” pungkasnya.
Pondok Pesantren Nurul Jadid terletak di Jl. Kyai Haji Zaini Mun’Im, Desa Karanganyar, Paiton, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. Tahun 2017 ini, Ponpes Nurul Jadid kembali membuka pendaftaran Santri Baru.
Adapun, pendaftaran Santri Baru sudah dibuka pada tanggal 01 Mei s/d 16 Juli 2017. Sedangkan, penerimaan Santri Baru Satu Atap yang meliputi daftar pesantren dan daftar ulang lembaga formal dilaksanakan pada tanggal 05 s/d 16 Juli 2017.
Berikut ini keterangan lengkap mengenai pendaftaran tiap jenjang pendidikan.
SMA
SMK
MA
SMP
MTs
Pengambilan Formulir
24 April – 25 Mei 2017
01 April – 16 Juli 2017
15 April – 16 Juli 2017
20 April – 31 Mei 2017
09 April – 14 Juli 2017
Biaya
Rp. 75.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 80.000,-
Rp. 100.000,-
Rp. 75.000,-
Daftar Ulang
05 – 16 Juli 2017
05 – 16 Juli 2017
14 – 16 Julli 2017
05 – 16 Juli 2017
05 – 16 Juli 2017
Pelaksanaan Test Seleksi
14 – 16 Juli 2017
12 Juli 2017
13 Juli 2017
12 – 13 Juli 2017
15 – 16 Juli 2017
Adapun untuk Orientasi Santri dan Siswa Baru (OSBAR) tahun 2017 akan dilaksanakan pada tanggal-tanggal berikut ini.
Pelaksanaan Orientasi Santri Baru (OSABAR) 2017 :
Pembukaan OSABAR : 16 Juli 2017 (Ba’da Isya’)
Pelaksanaan Kegiatan OSABAR : 17 – 19 Juli 2017
Penutupan OSABAR : 21 Juli 2017 (Ba’da Isya’)
Pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS) Lembaga Formal : 20 Juli 2017
Brosur Pesantren Dapat Anda Download disini
Brosur SMA Nurul Jadid Dapat Anda Download disini.
Brosur SMK Nurul Jadid Dapat Anda Download disini.
Brosur MA Nurul Jadid Dapat Anda Download disini.
Brosur SMP Nurul Jadid Dapat Anda Download disini.
Brosur MTs Nurul Jadid Dapat Anda Download disini.
Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Moh. Zaki Ghufron (Ketua Umum PSB 2017). CP: 085-236-070-864.
Pondok Pesantren biasa disingkat dengan Ponpes, Pontren atau PP merupakan sebuah tempat belajar. Di sanalah para santri ditempa dan dididik oleh para asatidz dan para kiai dalam memahamkan pelbagai ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama Islam. Segudang keilmuan ditawarkan di Ponpes, mulai dari cara membaca kitab atau biasa disebut ilmu alat (nahwu dan sharaf), matematika (ilmu hisab) hingga astronomi (ilmu falak). Selain itu, pengetahuan mengenai pertanian, peternakan, otomotif, literasi hingga public speakingjuga bisa didapatkan di Ponpes. Komplit!
Banyak santri jebolan Ponpes yang dapat bersaing di dunia kerja maupun profesional. Selain keuletan yang bersangkutan, faktor doa dari para guru di pesantren juga tidak patut untuk dinafikan. Keberkahan yang oleh para santri dicari melalui gurunya, menjadikannya orang yang sukses ketika sudah keluar dari dunia pesantren.
Metode pembelajaran di Ponpes juga menunjang para santri untuk memahami pelajaran yang didapat. Ya, metode pengajaran di masing-masing pesantren pastilah berbeda. Masih ingat dengan mantra Man jadda wajada yang oleh A. Fuadi dituliskan menjadi sebuah buku? Di buku yang juga difilmkan itu mengisahkan metode cara menghafal mufradat (kata dalam bahasa Arab) dan motivasi para guru yang dapat membangkitkan kepercayaan diri para santri. Di buku tersebut juga menggambarkan kisah kehidupan di lingkungan pesantren dari pagi sampai malam.
Ilustrasi para santri. Sumber: kompasiana
Banyak santri yang masih belia dipondokkan orang tuanya. Banyak yang bersedih karena tidak diperbolehkan pulang dalam waktu tertentu. Bagaimana seorang santri dididik agar dapat survive ketika jauh dari orang tuanya? Padahal sejak bayi hingga sekolah selalu tinggal bersama orang tua. Pesantren mengajarkan semuanya sehingga tidak menjadikan para santri generasi cengeng.
Para santri menyebut Pondok Pesantren adalah sebagai Penjara Suci. Mengapa penjara? Karena banyak sekali aturan di Ponpes yang mengikat para santri untuk tidak melanggarnya. Sangat tertutup dan tidak bebas. Namun, percayalah, Anda akan mengambil banyak sekali hikmah dan pelajaran dibalik itu semua.
Dunia pesantren sangatlah majemuk. Berbagai macam tipe orang berbaur dan menyatu mengikuti komando Sang Kiai untuk mendapatkan berkah dan ilmunya membekas (atsar). Kesadaran pribadi dan keteladanan para guru menjadikan para santri tetap takdzim.
Jika masih bingung dengan beberapa istilah diatas, silakan cek kamusnya di link berikut.
Ponpes.net – Bernama asli Mohammad Hasjim Asy’arie. Pengejaan nama belakang beliau ada dua versi: Asy’ari atau Ashari. Beliau lahir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada tanggal 10 April 1875 M atau 24 Dzulqaidah 1287 H. Beliau wafat 72 tahun kemudian di Jombang, Jawa Timur, tepatnya tanggal 25 Juli 1947 M atau 6 Ramadhan 1366 H.
Hadratus Syekh K.H Hasyim Asy’ari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asy’ari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Sementara kesepuluh saudaranya antara lain: Nafi’ah, Ahmad Saleh, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Berdasarkan silsilah garis keturunan ibu, K.H. Hasjim Asy’ari memiliki garis keturunan baik dari Sultan Pajang Jaka Tingkir juga mempunyai keturunan ke raja Hindu Majapahit, Raja Brawijaya V (Lembupeteng).
Beliau adalah pendiri organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Beberapa keturunannya yang menjadi tokoh dan pahlawan nasional, seperti anaknya, KH Wahid Hasyim (Menteri Agama RI pertama) dan cucunya, KH Abdurrahman Wahid atau lebih sering disapa dengan Gus Dur (Presiden RI ke-4).
Pencarian Ilmu Agama
Kiai Hasyim memulai menimba ilmu agama sejak kecil dengan dari ayahnya, Kiai Asy’ari. Selain itu, beliau juga belajar kepada kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Ketika tumbuh menjadi remaja, seorang Hasyim mulai berkelana ke berbagai Pondok Pesantren (Ponpes), diantaranya Ponpes Wonokoyo di Probolinggo, Ponpes Langitan di Tuban, Ponpes Trenggilis di Semarang, Ponpes Kademangan di Bangkalan dan Ponpes Siwalan di Sidoarjo.
Usia 17 tahun, beliau bertolak ke Mekah untuk memperdalam ilmu agamanya. Diantara guru-guru beliau adalah Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah, Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi.
Beberapa guru lain yang tinggal di Mekah dan mengajari Hasyim adalah ulama terkenal dari Banten, yaitu Syaikh Nawawi al-Bantani. Nama-nama seperti Syaikh Shata dan Syaikh Dagistani yang merupakan ulama terkenal pada masa itu adalah para guru Asy’ari lainnya.
Berbagai macam ilmu diserapnya. Ilmu hadits, beliau belajar kepada Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi (Termas, daerah Pacitan). Ilmu fikih (fiqh), khususnya mazhab Syafi’i, beliau Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Selain fiqh, beliau juga belajar ilmu falak (astronomi), hisab (matematika) dan aljabar dari guru yang sama. Pada Syekh Ahmad Khatib juga, santri Hasyim mempelajari tafsir karya Muhammad Abduh, Al Manar.
Selain bidang keilmuan diatas, beliau masih banyak belajar kepada guru lainnya. Guru-guru beliau sangatlah banyak yang tidak bisa kami sebutkan satu-persatu tanpa mengurangi rasa hormat kepada guru-guru beliau.
Nahdlatul Ulama
Seperti yang kami sampaikan di awal, KH Hasyim Asy’ari merupakan pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Ari Nahdlatul Ulama (NU) sendiri adalah kebangkitan para Ulama. NU didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 dan saat ini merupakan organisasi ke-Islam-an dengan anggota terbesar se-Asia.
Berawal dari kelompok diskusi Taswirul Afkar pada tahun 1924, ide untuk mendirikan organisasi ini bermula. Para Ulama mendesak Hadratus Syaikh untuk menyetujui pendirian organisasi (jam’iyyah), namun beliau meminta waktu untuk melakukan shalat istikharah.
Hadratus Syekh diberi petunjuk untuk menemui KH Kholil Bangkalan. Dengan karamah yang dimilikinya, Kiai Kholil bin Abdul Latif Bangkalan telah mengetahui apa yang sedang diinginkan Hadratus Syekh. Untuk itulah, Kyai Kholil lalu mengutus salah satu orang santrinya untuk menyampaikan sebuah tasbih kepada Hadratus Syekh di Tebuireng. Santri tersebut adalah As’ad Syamsul Arifin (kelak menjadi pengasuh Ponpes Salafiyah Syafiiyah Situbondo). As’ad juga diberi pesan, setiba di Tebuireng, Jombang dan bertemu dengan Hadratus Syekh, bacakan surat Thaha ayat 23.
Kiai Hasyim pun gemetar dan mengangis karena sinyalemen pendirian organisasi yang digagas para Ulama akan segera terwujud. Namun, hingga satu tahun, Kiai Hasyim masih saja gundah dan belum memutuskan untuk mendirikan organisasinya. Jauh di Madura, Kiai Kholil kembali mengetahui apa yang dirasakan Kiai Hasyim.
Karena itulah, Kiai Kholil kembali mengirimkan santrinya, As’ad untuk menemui Kiai Hasyim. Beliau mengalungkan tasbih ke As’ad dan berpesan untuk tidak menyentuh tasbih yang dilehernya dan terus berwirid Ya Qahhar, Ya Jabbar selama perjalanan ke Jombang.
As’ad adalah santri yang sangat taat kepada Kiai Kholil. Ia rela tidak mandi karena takut pesan Kiainya dilanggar: menyentuh tasbih. Ia masih berpedoman bahwa yang mengalungkan tasbih adalah Kiai, maka yang berhak mengambilnya adalah Kiai juga. Ia lalui semua rintangan di jalan hingga akhirnya sampai di kediaman Kiai Hasyim.
Kemantapan akan pendirian jam’iyyah semakin berlipat dengan diterimanya tasbih yang kedua dari Kiai Kholil. Maka, pada tanggal 31 Januari 1926 M atau 16 Rajab 1344 H, beliau mendirikan jam’iyyah yang dinamai Nahdlatul Ulama. Beliau menjadi Rais Akbar. Adapun Kiai Kholil wafat sebelum organisasi tersebut terbentuk.
Tulisan dan Kitab
KH Hasyim Asy’ari banyak sekali menulis artikel untuk menorehkan pemikirannya. Beberapa karyanya diabadikan dalam beberapa kitab yang terkenal. Berikut ini merupakan beberapa karya beliau.
Adab al-alim wal Muta’allim fi maa yahtaju Ilayh al-Muta’allim fi Ahwali Ta’alumihi wa maa Ta’limihi (Etika Pengajar dan Pelajar dalam Hal-hal yang Perlu Diperhatikan oleh Pelajar Selama Belajar) adalah sebuah kitab yang mengupas tentang pentingnya menuntut dan menghormati ilmu serta guru. Dalam kitab ini Kiai Hasyim menjelaskan kepada kita tentang cara bagaimana agar ilmu itu mudah dan cepat dipahami dengan baik.
Al-Tibyan: fin Nahyi ‘an Muqota’atil Arham wal Aqoorib wal Ikhwan (Penjelasan tentang Larangan Memutus Tali Silaturrahmi, Tali Persaudaraan dan Tali Persahabatan). Dalam kitab ini, ditekankan pentingnya menjalin silaturrohim dengan sesama serta bahayanya memutus tali sillaturohim. Didalam kitab ini pula, termuat Qunun Asas atau udang-undang dasar berdirinya Nadhatul Ulama (NU) serta 40 hadits nabi yang berhubungan dengan pendirian Nahdlatul Ulama.
Risalah Ahlis-Sunnah Wal Jama’ah: Fi Hadistil Mawta wa Asyrathis-sa’ah wa baya Mafhumis-Sunnah wal Bid’ah (Paradigma Ahlussunah wal Jama’ah: Pembahasan tentang Orang-orang Mati, Tanda-tanda Zaman, dan Penjelasan tentang Sunnah dan Bid’ah).
Al-Nuurul Mubiin fi Mahabbati Sayyid al-Mursaliin (Cahaya yang Terang tentang Kecintaan pada Utusan Tuhan, Muhammad SAW).
Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama, sebuah bacaan wajib Nahdliyyin (pengikut Nahdlatul Ulama). Di dalamnya terdapat ayat dan hadits serta pesan penting yang menjadi landasan awal pendirian jam’iyah NU.
Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah. Mengikuti manhaj para imam empat yakni Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal, tentunya memiliki makna khusus sehingga akhirnya mengikuti jejak pendapat imam empat tersebut dapat ditemukan jawabannya dalam kitab ini.
Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama. Hidup ini tak akan lepas dari rintangan dan tantangan. Hanya pribadi yang tangguh serta memiliki sosok yang kukuh dalam memegang prinsiplah yang akan lulus sebagai pememang. Kitab ini berisikan 40 hadits pilihan yang seharusnya menjadi pedoman bagi warga NU.
Al-Tanbihat al-Wajibat liman Yushna’ al-Maulid bi al-Munkarat. Kitab ini menyajikan beberapa hal yang harus diperhatikan saat memperingati maulidur rasul.
Dhou’ul Misbah Fi Bayani Ahkamin Nikah berisi pikiran ataupun pandangan KH Hasyim Asy’ari tentang lembaga perkawinan. Dalam kitab tersebut, beliau menangkap betapa pada saat itu, banyak pemuda yang ingin menikah, akan tetapi tidak mengtahui syarat dan rukunnya nikah.
Mawaidz. Adalah kitab yang bisa menjadi solusi cerdas bagi para pegiat di masyarakat. Saat Kongres NU XI tahun 1935 di Bandung, kitab ini pernah diterbitkan secara massal. Demikian juga Prof Buya Hamka harus menterjemah kitab ini untuk diterbitkan di majalah Panji Masyarakat, edisi 15 Agustus 1959.
Semoga kegigihan dalam menuntut ilmu dan keteladanan beliau dapat menular kepada kita semua. Aamiin.
Ponpes.net – Penyanyi terkenal asal Pasundan Abdul Wahyu Affandi yang lebih dikenal dengan Doel Sumbang meluncurkan album terbarunya yang berjudul Pesantren Cipasung. Peluncuran album baru ini mengambil tempat di halaman Pesantren Cipasung Singaparna Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (17/9).
Ribuan santri Cipasung dengan seragam putih memadati halaman pesantren dalam rangka memeriahkan peluncuran almbum baru tersebut. Peluncuran album terbaru Doel Sumbang ini merupakan rangkaian acara Haul Pendiri Pesantren Cipasung KH Ruhiat dan Putranya KH Ilyas Ruhiat yang berlangsung pada Sabtu (18/9).
Pada peluncuran ini Doel Sumbang membawakan dua lagu, Pesantren Cipasung dan Sajadah Panjang karya Bimbo. Acara ini dilanjutkan dengan wejangan Doel Sumbang dan Pimpinan Pesantren Cipasung KH Abun Bunyamin Ruhiat.
Doel Sumbang mengatakan bahwa lagu Pesantren Cipasung ini bertujuan untuk menyiarkan Islam dan mendakwahkan pesantren yang merupakan sarana pendidikan Islam. Menurutnya, menyiarkan dakwah Islam itu sangat berwarna. Salah satunya dengan seni.
“Maka dari itu saya mempunyai inisiatif membuat lagu Pesantren Cipasung ini. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan pesantren melalui lagu. Karena lagu merupakan salah satu seni yang banyak digemari dan didengar oleh manusia,” pungkas Doel.
Sementara Kiai Abun Bunyamin mengatakan, peluncuran album ini bertujuan mempromosikan pesantren supaya eksis dalam seni musik juga, “Bukan untuk Cipasung saja tapi untuk seluruh pesantren di Indonesia. Dakwah dengan seni itu sangat efektif seperti halnya Wali Songo.”