Ala Santri

Ikhlas Bertauhid

Santri 1 : ”Jadi kalo saya baca qulhu tiga kali, sama dengan khatam al-Qur’an nggih, Yai?”
Kyai : ”Boleh. Yang tidak kalah penting, Kanjeng Rasul seolah memberi isyarat pada kita bahwa sepertiga bahasan dalam al-Qur’an adalah problem keikhlasan dan ketauhidan, tema surat al-Ikhlas.”
Santri 2 : ”Jadi qulhu bukan hanya soal Tuhan yang tidak beranak dan diperanakkan nggih, Yai? Kulo lebih rasakan lebih dekat pada makna Tuhan yang “tak bersebab” dan tidak “dipersebabkan”. Apalagi perintah pertama langsung disuruh bikin pernyataan, “Katakanlah”. Jadi ini semacam surat pernyataan, Yai?”
Santri 1 : ”Kang K***ni ada-ada saja. Kalopun itu surat pernyataan, emang ditujukan pada siapa?”
Santri 2 : ”Ya, pada pembacanya dan para pendengarnya, bahkan bisa bermakna seruan pada seluruh semesta, Dimas.”
Santri 3 : ”Maksudnya Tuhan yang “tak bersebab” dan tidak “dipersebabkan” itu bagaimana, Kang?”
Santri 2 : “Artinya, wujud-Nya Tuhan itu tidak bersebab dan tidak dipersebabkan oleh kejadian, tuntutan atau kondisi apapun juga.”
Santri 4 : “Kok aku tidak paham tho, Kang. Maksudnya bagaimana?”
Santri 2 : ”Mungkin terlalu jauh untuk membicarakan wujud-Nya Gusti Allah. Coba rasakanlah, bahwa cinta-kasih-Nya Gusti Allah itu tidak perlu alasan dan sebab, dan kehadiran-Nya tidak karena suatu akibat tertentu. Termasuk kalo kita pertanyakan mengapa Gusti Allah swt. menghadirkan keragaman suku, bahasa, bangsa dan etnis manusia, maka jawabnya Gusti Allah tidak butuh alasan dan sebab untuk menciptakan apa yang Dia mau, kita yang perlu mencari hikmah dibalik kodrat-Nya, dari sisi baik dan buruknya.”
Santri 5 : ”Jadi maksudnya bertauhid itu tidak ‘hanya’ mengakui bahwa Gusti Allah itu satu ya, Kang?”
Santri 2 : ”Iya. Bertauhid juga bermakna ikhlas menerima keragaman dan mengakui bahwa kita sebenarnya satu kesatuan yang hanya akan kembali pada Allah SWT saja. Menistakan satu ciptaan Allah, sama saja menistakan Sang Maha Pencipta. Tugas orang yang bertauhid dan ikhlas itu memerangi kekufuran, bukan membenci orang kafir. Melawan kemiskinan dan kebodohan, bukan melawan orang miskin dan orang bodoh. Dan seterusnya. Begitu nggih, Yai?”
Kyai : “Zzzzzz… (duduk tertidur )”
Santri 6 : “Ya sudah. Qulhu saja, Lek”

Sepertiga problem kehidupan adalah problem keikhlasan dan bertauhid.

Tentang penulis

Muhammad Qowim

Pegiat Laras Madyo😍 Penghuni Gubug Tahfidz 😍 Sanggar Joglo Alit 😍 Penunggu Kandang Kalimasodo😍 Pengepul tinta di Sentra Peternakan Rakyat (SPR) Kebon Wulang Reh

Yuk komen

Tulis komentar kamu di sini

Quote

Jadilah seperti matahari bagi memberi dan mengasihi
Jadilah seperti malam untuk menutupi kesalahan orang lain
Jadilah seperti alir air untuk kemurahan hati
Jadilah seperti maut untuk kesumat dan amarah
Jadilah seperti bumi untuk kerendahan hati
Muncullah sebagaimana kamu
Jadilah sebagaimana kamu muncul

– Maulana Jalaluddin Rumi –

Terpopuler