Bertauhid Itu Merawat Bukan Menaklukkan

Bertauhid itu menyatu, manunggal.

Jika engkau bertauhid, maka menyatulah dengan semesta karena semesta adalah bagian kecil dari Kekasihmu Yang Maha Besar.

Jika engkau sesuaikan ritmemu dengan suara alam, maka akan engkau dapati semesta sibuk bertasbih pada Kekasihmu.

Dan begitu nuranimu menyatu, maka akan kau dengar panggilan, bagaimana semestinya dirimu bekerja merawat dan memelihara alam semesta.

Yang bertauhid itu tak bernafsu melawan & menaklukkan alam, melainkan sibuk merawat dan memelihara peradaban semesta.

Sungkem katur Mbah Yai Sahal Mahfudh (alm), tabarrukan dengan karya beliau “Nuansa Fiqh Sosial” (1994). Lahu alfatihah.

Ikhlas Bertauhid

Santri 1 : ”Jadi kalo saya baca qulhu tiga kali, sama dengan khatam al-Qur’an nggih, Yai?”
Kyai : ”Boleh. Yang tidak kalah penting, Kanjeng Rasul seolah memberi isyarat pada kita bahwa sepertiga bahasan dalam al-Qur’an adalah problem keikhlasan dan ketauhidan, tema surat al-Ikhlas.”
Santri 2 : ”Jadi qulhu bukan hanya soal Tuhan yang tidak beranak dan diperanakkan nggih, Yai? Kulo lebih rasakan lebih dekat pada makna Tuhan yang “tak bersebab” dan tidak “dipersebabkan”. Apalagi perintah pertama langsung disuruh bikin pernyataan, “Katakanlah”. Jadi ini semacam surat pernyataan, Yai?”
Santri 1 : ”Kang K***ni ada-ada saja. Kalopun itu surat pernyataan, emang ditujukan pada siapa?”
Santri 2 : ”Ya, pada pembacanya dan para pendengarnya, bahkan bisa bermakna seruan pada seluruh semesta, Dimas.”
Santri 3 : ”Maksudnya Tuhan yang “tak bersebab” dan tidak “dipersebabkan” itu bagaimana, Kang?”
Santri 2 : “Artinya, wujud-Nya Tuhan itu tidak bersebab dan tidak dipersebabkan oleh kejadian, tuntutan atau kondisi apapun juga.”
Santri 4 : “Kok aku tidak paham tho, Kang. Maksudnya bagaimana?”
Santri 2 : ”Mungkin terlalu jauh untuk membicarakan wujud-Nya Gusti Allah. Coba rasakanlah, bahwa cinta-kasih-Nya Gusti Allah itu tidak perlu alasan dan sebab, dan kehadiran-Nya tidak karena suatu akibat tertentu. Termasuk kalo kita pertanyakan mengapa Gusti Allah swt. menghadirkan keragaman suku, bahasa, bangsa dan etnis manusia, maka jawabnya Gusti Allah tidak butuh alasan dan sebab untuk menciptakan apa yang Dia mau, kita yang perlu mencari hikmah dibalik kodrat-Nya, dari sisi baik dan buruknya.”
Santri 5 : ”Jadi maksudnya bertauhid itu tidak ‘hanya’ mengakui bahwa Gusti Allah itu satu ya, Kang?”
Santri 2 : ”Iya. Bertauhid juga bermakna ikhlas menerima keragaman dan mengakui bahwa kita sebenarnya satu kesatuan yang hanya akan kembali pada Allah SWT saja. Menistakan satu ciptaan Allah, sama saja menistakan Sang Maha Pencipta. Tugas orang yang bertauhid dan ikhlas itu memerangi kekufuran, bukan membenci orang kafir. Melawan kemiskinan dan kebodohan, bukan melawan orang miskin dan orang bodoh. Dan seterusnya. Begitu nggih, Yai?”
Kyai : “Zzzzzz… (duduk tertidur )”
Santri 6 : “Ya sudah. Qulhu saja, Lek”

Sepertiga problem kehidupan adalah problem keikhlasan dan bertauhid.

Gagal mengambil konten.