Ala Santri

Pembunuh Para Nabi

Aktivis 1 : ”Sudah jelas Yahudi dan Nasrani dikutuk dalam al-Qur’an. Kenapa Yai, malah mendukung mereka?”
Kyai : “Saya mendukung persaudaraan dan kemanusiaan. Sepahaman saya, al-Qur’an mengkritik Yahudi, Nasrani dan kaum-kaum yang lain bukan sebagai kelompok social. Al-Qur’an mengkritik prilaku dan tindakan mereka, sebagaimana al-Qur’an juga sering mengingatkan perilaku dan tindakan kita, muslim para pembaca al-Qur’an.”
Aktivis 2 : “Samanya dimana Yai. Lha wong jelas, al-Qur’an jelas menyebut mereka membunuh para Nabi kok. Mana ada umat muslim yang membunuh para Nabi Yai. Ngarang Yai ini.”
Kyai : “Membunuh para nabi itu bukan hanya kelakuan umat-umat terdahulu. Hari inipun, jika kita tidak berhati-hati, maka kaum muslimin juga bisa berkelakuan “membunuh para Nabi”.
Aktivis 3 : “Maksud Yai apa? Kok malah bikin fitnah umat Islam. Sampeyan mau dikenakan pasal penistaan?”
Kyai : “Membunuh para Nabi” bisa jadi bermakna lebih luas. Ketika kita agungkan nama para nabi, namun kita campakkan ajaran-ajaran beliau yang lestari dan universal, maka itu bisa jadi bagian dari “pembunuhan terhadap para nabi”. Jika kita memancung ajaran-ajaran luhur itu, maka kitalah pembunuh para nabi yang sebenarnya.”
Aktivis 2 : ”Penjelasan mbulet. Konkretnya apa? Sampeyan ngomong ngalor ngidul malah nuduh umat membunuh para nabi.”
Kyai : ”Pendapat saya biarlah untuk saya dan santri-santri yang mau menerima ilmu saya. Sampeyan tidak perlu risau pendapat saya. Sekedar missal, Nabi Adam as mengajarkan pentingnya pranata keluarga sebagai tonggak peradaban manusia. Maka tatkala kita abai terhadap pranata keluarga, kita telah mencampakkan ajaran nabi adam alias membunuh Nabi Adam as. Tatkala kita kemaruk dengan pembangunan di daratan, maka kita telah abai peringatan Nabi Nuh as untuk mengeksplorasi kekayaan maritim dan peradaban samudra. Bisa jadi, kita telah membunuh Nabi Nuh as. Tatkala kita bungkam terhadap penjajahan dan genosida, maka sebenarnya kita telah mencampakkan ajaran anti penjajahan Nabi Musa as alias kitalah yang membunuh Nabi Musa as. Ketika lingkungan, flora dan fauna tiada dihargai dan pembakaran hutan dimana-mana, bisa jadi kitalah yang mencampakkan ajaran dan membunuh Nabi Yahya as. Dan ketika nyawa, kehidupan dan kemanusiaan kita anggap sekedar angka-angka dan tidak bermakna lagi, maka kita telah mengabaikan ajaran Nabi Isa as. Bisa jadi, kitalah yang membunuh Nabi Isa as. Dan masih banyak lagi, jika kupaparkan maka kuping dan otak kalian mungkin akan muak padaku.”
Aktivis 4 : “Kenapa kami harus muak, jika itu sebuah kebenaran Yai.”
Kyai : ”Karena sayyidina Ali ra sudah mengingatkan kami, agar tidak menasehati orang bodoh karena mereka akan membencimu. Beliau berpesan, agar kami menasehati orang-orang berakal, karena mereka akan mencintaimu.”

Berhentilah “membunuh para Nabi”! Mesakke Negeriku.

Tentang penulis

Muhammad Qowim

Pegiat Laras Madyo😍 Penghuni Gubug Tahfidz 😍 Sanggar Joglo Alit 😍 Penunggu Kandang Kalimasodo😍 Pengepul tinta di Sentra Peternakan Rakyat (SPR) Kebon Wulang Reh

Komentar

Tulis komentar kamu di sini

Tinggalkan Balasan ke Sodiq Cancel reply

  • Ngaji, dengan dialog lebih mudah dipahami kak..
    Seakan kita ikut duduk mendengarkan langsung apa yang tokoh bicarakan.
    Matur suwun…

    Ttd.
    kpi

Quote

Jadilah seperti matahari bagi memberi dan mengasihi
Jadilah seperti malam untuk menutupi kesalahan orang lain
Jadilah seperti alir air untuk kemurahan hati
Jadilah seperti maut untuk kesumat dan amarah
Jadilah seperti bumi untuk kerendahan hati
Muncullah sebagaimana kamu
Jadilah sebagaimana kamu muncul

– Maulana Jalaluddin Rumi –

Terpopuler