Artikel

Gus Yusuf: Mencari Ilmu Harus Tirakat

Ponpes.net – Selain belajar, para santri di berbagai pesantren di Indonesia banyak diajarkan riyadhah atau riyalat/tirakat. Riyadhah merupakan olah batin, sebuah pendidikan karakter dalam mengendalikan hawa nafsu.

KH Yusuf Chudlori, salah satu pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah menjelaskan satu kutipan dari Imam Al Ghazali yang mengibaratkan nafsu berkedudukan seperti kuda.

“Nafsu itu seperti kuda liar. Kalau kamu bisa mengendalikan, kuda itu akan bisa kamu tuntun, kamu naikin. Sebaliknya, jika tidak bisa kamu kendalikan, kamu yang akan diseret kuda itu.” kata putra KH Chudlori ini.

Nah, lanjut Gus Yusuf, kuda itu perlu dicambuk supaya bisa tunduk. Nafsu juga demikian. Ingin tidur ditahan supaya tetap terjaga, siang ingin makan, tidak diikuti. Jangan malah dibebaskan. Kalau bisa dikendalikan, ilmu yang akan menunggangi nafsu. Karena nafsu itu sesuatu yang telah digariskan oleh Allah. Ada ammarah, lawwamah. Dengan riyadlah itulah kita menuntun nafsu.

Di Pesantren Tegalrejo, tirakatan bagi para santri sangat terasa. Mulai dari puasa Senin-Kamis hingga ngrowot, yaitu riyadhah menghindari makan nasi dalam rentang waktu yang telah ditentukan, bisa setahun, tiga tahun dan seterusnya.

Menanggapi hal tersebut, pemilik akun twitter dan instagram @yusuf_ch ini menyatakan, riyadlah yang demikian bukanlah hanya kebutuhan santri yang ia asuh, namun semua pesantren meski dalam praktiknya menggunakan cara yang beragam.

Gus Yusuf mencontohkan Pesantren di Sarang, Rembang. Di sana santri kesusahan mencari air, itu merupakan sebuah tirakat tersendiri. Atau pesantren KH Zainudin Mojosari Nganjuk yang justru melarang santrinya tirakat. Semua tirakat ditanggung kiainya. Namun lulusan pesantren sana jadi orang-orang hebat. Seperti KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Djazuli Usman Ploso dan KH Mahrus Ali Lirboyo. “Itu alumni sana semua,” tandas kiai muda ini.

“Orang mengaji sepintar apa pun, jika tidak ada riyadlahnya, percuma ilmunya. Karena nanti ilmunya akan ditunggangi oleh hawa nafsu.”

Gus Yusuf mencontohkan, kenapa banyak profesor, doktor, kemudian nge-share hoaks. Itu karena mereka orang pintar yang dikuasai hawa nafsunya. Kebencian pada seseorang telah mengalahkan akal sehat mereka.

Dengan demikian, katanya, tirakat atau riyadhah merupakan hal yang sangat penting untuk melatih pengendalian hawa nafsu. Aneka macam bentuk tirakat tersebut dapat menjadi rujukan bahwa ragam khazanah corak warna pesantren di Indonesia sangat banyak. Masing-masing dari meraka memiliki maziyyah (keistimewaan) yang tidak saling kalah hebat. Kita tinggal pilih yang mana.

Sumber: nu.or.id

Tentang penulis

Redaksi

Pengatur lalu lintas konten yang berlalu-lalang di website ini, termasuk menyunting berbagai artikel yang masuk via email. Ingin mengirim artikel tentang dunia pesantren? Bisa melalui ponpesnet[at]gmail[dot]com

Yuk komen

Tulis komentar kamu di sini

9 − six =

Quote

Jadilah seperti matahari bagi memberi dan mengasihi
Jadilah seperti malam untuk menutupi kesalahan orang lain
Jadilah seperti alir air untuk kemurahan hati
Jadilah seperti maut untuk kesumat dan amarah
Jadilah seperti bumi untuk kerendahan hati
Muncullah sebagaimana kamu
Jadilah sebagaimana kamu muncul

– Maulana Jalaluddin Rumi –