Artikel

Fadhilatul Habib Ali Al Jufri

1. Shalawat dan salam kepada Nabi saw perantara terbesar kita. Dan tercurah kepada keluarga dan sahabat dan pengikutnya.

2. Di antara hal yg menggembirakan hati kita dan hati Rasulullah saw adalah perhatian yang besar kepada ajaran Rasul dari para ahli ilmu, dai dan para pemegang amanat rakyat.

2. Kita ada di zaman fitnah, kekacauan dan gangguan. Segala keamanan hanya untuk orang2 yang fokus mendekat kepada Allah taala.

3. Bahaya segala bahaya bagi yang mengurusi dunia.

4. Nabi saw bersabda dalam sohih bukhori: aku tidak kuatir kamu menjadi musyrik, yang aku khawatirkan ketika Allah taala bukakan pintu duniawi kepada kamu.

5. Apakah masalah akan terjadi ketika pintu duniawi dibuka kepada kita? Bukan itu. Tapi maksudnya adalah kita menjadi mandiri.

Apa makna kekhawatiran Rasulullah saw ?

Dibukakan dunia kepada kamu seperti umat sebelum kalian. Maksudnya perangai kalian moral kalian seperti umat sebelum kamu.

Mereka berlomba2 untuk mencapai dunia. Sehingga hancur.

Rasulullah saw memperingatkan kita di Arab/Timur Tengah tidak peka.

Misinya setan adalah untuk menimbulkan keributan di antara kita.

Tahris adalah upaya provokasi/adu domba antar kelompok.

Provokasi akan berhasil karena dua hal :
1. Nafsu2 yang siap menerima provokasi.
2. Sebuah kejadian/isu untuk digoreng.

Nafsu itu berubah2. Dari ammaroh bissu, lawwamah, mutmainnah, dan mardiyah.

Bahkan nafsu yang paling buruk juga berubah.

Provokasi mencari target ketika nafsu saat sedih, marah, dll.

Rasulullah saw mengajarkan agar tidak marah / membina nafsu, jangan bersedih, dan banyak lagi bimbingan lain sebagaimana doa robbana atina fiddunya hasanah, dst.

Pendakwah ke jalan Allah saat ini bertugas untuk menenangkan nafsu2 ini agar sejalan dengan ajarn Rasulullah saw.

Peran pendakwah bukan memprovokasi kecuali pada jihad yang betul, dan syarat2 yang dibenarkan syariat. Bukan kalimat Jihad yang dicuri dan disalahgunakan untuk kepentingan yang keliru, menipu atas nama jihad Islam.

Contoh: warna sorban ini adalah sorban merah terserah saya. Kamu mau apa?

Seperti seseorang yang mengklaim ingin mendirikan Khilafah Islamiyah tapi menzolimi dan membantai sesama muslim.

Ini adalah pencurian dan penipuan atas nama Jihad.

Dai harus menenangkan nafsu dan bukan malah menjadi budak nafsu.

Provokasi adalah misi setan.

Setiap orang yang fondasinya provokasi berarti mengikuti misi syetan yaitu agar saling bermusuhan.

Perubahan yang terjadi di masa kita saat ini adalah yang dikatakan oleh Bapak Gatot Edi dari Kepolisian adalah seperti yang kami lihat sendiri di Timur Tengah.

Di timur tengah ada dua sampai empat negara luluh lantak.

Karena apa? Di jalan apa? Untuk apa?

Katanya demi khilafah islamiyah. Yang lain katanya demi demokrasi dan kebebasan rakyat.

Mereka hanyut di ombak fitnah. Sehingga negeri2 muslimin di timur tengah luluh lantak dipermainkan oleh negara2 yang lain.

Kalau kamu bertanya kepada mereka yang bom bunuh diri di pasar, adalah tujuannya agar tokoh tertentu dibunuh, tetapi muslimin yang terbunuh.

Darimana mereka dapat senjata? Kami beli. Dari mana kamu beli? Dari beberapa negara.

Kenapa untuk membunuh bangsamu sendiri? Mana klaim khilafah?

Semuanya adalah kebohongan.

Hasil dari klaim khilafah adalah umat islam berbaris mengantri mohon suaka ke negara lain, muncul pemurtadan kepada korban konflik.

Inikah yang anda sebut dengan khilafah Islamiyah.?

Mana klaim khilafah dan demokrasi dan HAM yang dijadikan alat provokasi.

Hati-hatilah. Jaga negeri kalian.

Saya tidak bicara tentang pemerintahan. Tapi jaga negeri kalian.
Jangan terprovokasi dengan orang pakai baju putih yang mengatasnamakan islam, demokrasi, liberalisme dll untuk merusak dan menipu.

Al Imam Mawardi mengatakan dalam kitabnya al Ahkamussulthoniyah, agama, akal, jiwa harus dijaga, kehormatan dan harga harus dijaga. Jika negara hancur, maka semuanya akan hancur.

Peran media sosial seperti apa yang dikatakan menteri agama yang menyitir sebuah hadis

كفى بالمرء كذبا أن يحدث بما سمع

Kita harus bijak menggunakan media sosial.

Di mana kita menyikapi bimbingan Allah taala yaitu ajaran tabayyun (cari kejelasan) dan tatsabbut (teguh pada ajaran agama).

Sesungguhnya media sosial itu tetap tidak bisa diteliti dan dengan bijak jangan terpancing, harua tetap croscheck dan jangan andil dalam kebohongan.

Ada lagi sesuatu yang selalu berubah dalam hukum fikih karena perbedaan zaman. Perlu kajian dan pembaharuan. Kita perlu mendalami lagi hukum fiqih.

Beliau mengingatkan : semua masalah kita, dari nafsu dll akan menjadi ringan dan kecil ketika kita duduk bersama Allah, curhat kepada Allah dengan menghidupkan hati kita dengan cahaya Allah.

Ini penting bagi pendakwah.

Perkuat hubungan kita dengan Nabi Muhammad saw karena kalian mewakili Nabi Muhammad SAW.

Tentang penulis

Redaksi

Pengatur lalu lintas konten yang berlalu-lalang di website ini, termasuk menyunting berbagai artikel yang masuk via email. Ingin mengirim artikel tentang dunia pesantren? Bisa melalui ponpesnet[at]gmail[dot]com

Yuk komen

Tulis komentar kamu di sini

Quote

Jadilah seperti matahari bagi memberi dan mengasihi
Jadilah seperti malam untuk menutupi kesalahan orang lain
Jadilah seperti alir air untuk kemurahan hati
Jadilah seperti maut untuk kesumat dan amarah
Jadilah seperti bumi untuk kerendahan hati
Muncullah sebagaimana kamu
Jadilah sebagaimana kamu muncul

– Maulana Jalaluddin Rumi –

Terpopuler