Bagaimana Kita Menyambut Gerhana Bulan?

Ponpes.net – Gerhana bulan total akan terjadi pada pengujung bulan ini. Seperti yang telah kita ketahui, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengumumkan akan terjadi gerhana bulan pada tanggal 31 Januari. Gerhana bulan ini termasuk unik karena peristiwa ini terakhir kali terjadi pada 31 Maret 1866 atau 152 tahun yang lalu. Berikut khutbah yang dapat disampaikan ketika Jumat siang ini.

Baca juga: Khutbah Tentang Gerhana Bulan

Terkait dengan peristiwa gerhana bulan, Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 437) menyebutkan beberapa adab menyambut gerhana bulan sebagai berikut:

آداب الخسوف: دوام الفزع، وإظهار الجزع، ومبادرة التوبة، وترك الملل، وسرعة القيام الى الصلاة، وطول القيام فيها، واستشعار الحذر.

Artinya: “ Senantiasa memiliki rasa takut, menampakkan rasa haru, segera bertobat, tidak bersikap mudah bosan, segera melaksanakan shalat, berlama-lama dalam shalatnya dan merasakan adanya peringatan.”

Dari kutipan di atas dapat diuraikan ketujuh adab menyambut gerhana bulan sebagai berikut:

1. Senantiasa memiliki rasa takut. Sepanjang peristiwa gerhana sebaiknya seseorang menunjukkan rasa takut di hadapan Allah SWT dan bukan rasa takut atas peristiwa gerhana itu sendiri. Rasa takut itu sangat penting dalam rangka membentuk kartakter takwa kepada Allah-Nya. Tanpa rasa takut sudah pasti seseorang akan mudah melakukan kemaksiatan.

2. Menampakkan rasa haru. Sepanjang peristiwa gerhana sebaiknya seseorang menampakkan rasa haru atas peristiwa gerhana di hadapan Allah SWT. Bagaimanapun peristiwa ini merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT sebagai Sang Pencipta sekaligus Sang Penguasa langit, bumi serta seluruh alam berserta seluruh isinya.

3. Segera bertobat. Salah satu rangkaian bertobat adalah membaca istighfar. Hal ini dapat dilakukan, misalnya, ketika duduk di dalam masjid sambil menunggu saat iqamah. Dalam rangkaian shalat gerhana, khatib dalam doanya sewaktu khutbah mengucapkan istighfar dengan banyak memohon ampunan kepada Allah SWT, dan doa ini diamini oleh para jamaah.

4. Tidak bersikap mudah bosan. Sepanjang gerhana terjadi sebaiknya seseorang merasa betah menyambut peristiwa ini hingga selesai rangkaian pelaksanaan shalat gerhana. Shalat gerhana memang cenderung memakan waktu lebih lama dari pada shalat-shalat lainnya karena dalam setiap rakaatnya rukuk dilakukan dua kali. Demikian pula ketika khutbah disampaikan sebaiknya seseorang dapat mendengarkan isi nasihat-nasihatnya dengan khusyu’ dan khidmat.

5. Segera melaksanakan shalat. Begitu gerhana bulan terjadi, shalat khusuf ini sebaiknya segera dimulai dan dilakukan secara berjamaah. Baik laki-laki maupun perempaun disunnahkan melaksanakan shalat gerhana.

6. Berlama-lama dalam shalatnya. Shalat gerhana berlangsung dua rakaat namun memakan waktu lebih lama dari pada shalat-shalat lainnya karena dalam setiap rakaat terdapat dua ruku’. Ini artinya dalam setiap rakaatnya dilakukan bacaan al-fatihan dan surah lainnya dua kali karena berdirinya juga dua kali sehingga total rukuk dan bacaan al-fatihah serta surah lainnya adalah empat.

7. Merasakan adanya peringatan. Sepanjang shalat gerhana sebaiknya seseorang merasakan adanya peringatan terkait peristiwa gerhana bahwa hal itu merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah sebagai Sang Pencipta sekaligus Sang Penguasa langit dan bumi serta seluruh alam berserta seluruh isinya. Untuk itu diharapkan dengan melaksanakan shalat gerhana seseorang akan meningkat ketakwaannya kepada Allah SWT.

Ketujuh adab tersebut sebaiknya dilakukan secara utuh sebab dapat meningkatkan kesadaran kita akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Hal yang tak kalah penting dari menyambut peristiwa gerhana ini adalah adanya kesadaran kita akan perlunya memperhatikan kejadian-kejadian alam sebab hal ini dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Doa Saat Terjadi Gempa Bumi

Ponpes.net – Sebagaimana biasa setiap terjadi guncangan akibat gempa bumi, banyak orang merasa takut atau setidaknya merasa khawatir akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Umat Islam sudah seharusnya selalu ingat kepada Allah SWT pada kondisi apa pun. Berdoa menjadi salah satu cara untuk mengingat Allah termasuk dalam situasi gempa

Selengkapnya doa itu sebagai berikut:

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢّ ﺇِﻧّﻲْ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﻣَﺎ ﻓِﻴْﻬَﺎ، ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﻣَﺎ ﺃَﺭْﺳَﻠْﺖَ ﺑِﻪِ؛ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّﻫَﺎ، ﻭَﺷَﺮِّﻣَﺎﻓِﻴْﻬَﺎ ﻭَﺷَﺮِّﻣَﺎ ﺃَﺭْﺳَﻠْﺖَ ﺑِﻪِ

Allâhumma innî asaluka khairaha wa khaira mâ fîhâ, wa khaira mâ arsalta bihi, wa a’ûdzubika min syarrihâ, wa syarri mâ fîhâ wa syarri mâ arsalta bihi

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kehadirat-Mu kebaikan atas apa yang terjadi, dan kebaikan apa yang di dalamnya, dan kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan dengan kejadian ini. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan atas apa yang terjadi, dan keburukan atas apa yang terjadi didalamnya, dan aku juga memohon perlindungan kepada-Mu atas apa-apa yang Engkau kirimkan.”

Semoga kita semua diberikan keselamatan dan kebaikan serta dapat segera bertaubat atas hal-hal buruk yang sudah kita lakukan. Aamiin

Lomba Cerpen Santri Nasional

Ponpes.net – Dalam rangka memperingati Hari Lahir Community of Santri Scholar Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA), CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga mempersembahkan rangkaian acara Semarak Santri Nusantara (SERSANTARA). Rangkaian acara ini antara lain Baksos dan Festival Budaya, Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional dan Lomba Cerpen Santri Nasional.

Departemen Jurnalistik dan Redaksi SARUNG (Suara Rumput Ilalang) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga mempersembahkan LOMBA CERPEN SANTRI NASIONAL bagi seluruh santri di penjuru Indonesia.

Adapun ketentuan-ketentuan Lomba Cerpen Santri Nasional adalah sebagai berikut:

Ketentuan Peserta

  • Peserta merupakan santri mukim Pondok Pesantren di seluruh Indonesia
  • Peserta berusia 15-20 dibuktikan dengan Kartu Tanda Santri atau surat keterangan dari Pondok Pesantren masing-masing.
  • Wajib berteman dengan akun Facebook Lomba Cerpen Santri Nasional

Ketentuan Naskah

  • Panjang cerpen 1500-2500 kata
  • Tema cerpen bebas namun harus bernuansa kepesantrenan
  • Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang literer (indah, menarik, mengalir) serta komunikatif
  • Diperbolehkan menggunakan bahasa gaul/slang dan bahasa daerah/asing dalam segmen dialog para tokohnya (jika diperlukan dan sesuai dengan tema)
  • Naskah yang dilombakan harus asli (bukan saduran atau plagiat) dan belum pernah dipublikasikan serta tidak sedang dikirimkan ke media manapun
  • Naskah yang dikirimkan tidak diperkenankan sedang berpartisipasi atau telah memenangkan penghargaan dalam kompetisi serupa di tempat lain
  • Tidak mengandung unsur SARA
  • Semua cerpen yang dikirim akan menjadi hak milik dari panitia

Ketentuan Penulisan

  • Judul Cerpen: Times New Roman dengan Font 18 Bold
  • Isi Cerpen Times New Roman dengan Font 12
  • Ukuran kertas A4 dengan Spasi 1,5
  • Margin: Top=3, Right=3, Bottom=3, Left=4

Ketentuan Pengiriman

Naskah cerpen dikirim dalam bentuk soft file (format PDF) ke e-mail: redaksisarung@gmail.com
Subjek e-mail: LCSN_Judul cerpen_Nama Peserta_Asal Pesantren
Dikirim dalam lampiran e-mail: (attachment file);
-Lampiran 1: Naskah cerpen;
-Lampiran 2: Data diri peserta (sertakan nama dan alamat Pondok Pesantren);
-Lampiran 3: Scan Kartu Tanda Santri atau surat keterangan dari Pondok Pesantren masing-masing;
-Lampiran 4: Scan atau foto script/resi atm sebagai bukti pembayaran.
– Pengiriman menggunakan e-mail pribadi peserta dan tidak dapat diwakilkan.
Setiap peserta wajib membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 5.000,00 (lima ribu rupiah) melalui transfer ke nomor rekening 1370012634784 (Mandiri) a.n. Ahmad Ahnaf Rafif

Timeline

Pengiriman Naskah: 21 Desember 2017 – 31 Januari 2018
Penilaian: 1 Februari 2018 – 28 Februari 2018
Pengumuman Juara: 4 Maret 2018

Hadiah dan Penghargaan
Juara 1 : Sertifikat + Buku Terbit + Uang Pembinaan
Juara 2 : Sertifikat + Buku Terbit + Uang Pembinaan
Juara 3 : Sertifikat + Buku Terbit + Uang Pembinaan
Penulis 15 Cerpen Terbaik: Sertifikat + Buku Terbit
Seluruh Peserta: E-Sertifikat sebagai peserta

Pengumuman dilaksanakan dalam acara puncak “Semarak Santri Nusantara (SERSANTARA)” CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Selamat menulis 😉

Three “Don’ts” in Life

Ponpes.net – First, do not be lazy! It is said that one of the diseases that there is no cure is a lazy disease. Many things that cause us to be hit by laziness. People with problems usually become lazy. Similarly people who do not have a target in life usually likes to laze around.

The person affected by his lazy disease will waste his time without doing anything as if the time is not worth it to him. Lazy people tend to overlay problems by procrastinating on them. That is why one of the prayers that the Prophet recommended for us to read is that we take refuge in God from feeling lazy.

Second, do not despair! Usually lazy people will tend to give up easily. Do not have spirit of fighting. He considers for what it means to fight anyway the result must be defeated as well. This is the one who has lost before playing.

Instead of organizing strategy in life, we tend to accept circumstances and no longer want to seek. You may be in debt, abandoned by lovers, given trials of illness, beaten by various slanders, but whatever it is as long as you do not despair, you can still rise again.

“… and do not despair of the grace of God. There is no despair of the mercy of Allah, but the heathen.” (Surah 12:87)

For those who like to accuse other people of disbelief just because of different opinions, read deh paragraph above: lest we also enter the category of infidels if we easily despair of God’s grace.

The desperate man does not seem to believe that God will not burden anyone beyond our means; not sure that even the reptiles of God give fortune; not confident that according to the promise of God behind the difficulty there must be ease.

Third, do not forget to be grateful! Those who are lazy and easily discouraged are usually rarely grateful. What would you be grateful for, lha wong our life is so threatening like this? So usually their excuses.

But my friend during the breath is still there and as long as the sun is still shining our lives it is worth to be grateful for. Look around us: how many other people are actually much more miserable than us.

Do not believe? Ask the confused scavengers to see us ngedumel because of the slow wifi connection; look at those who sleep in the sky and lit by the stars while we continue to grumble the PLN’s electric power; and listen to the little singing singers humming cheerfully knocking our car glass at a red light while we are stressful of losing the project.

Those who are good at being grateful means believing that God will add to the favors that exist – either at any time or in any way.

Those who remain grateful though tested with trials will be more optimistic looking at the future – all will be beautiful in time.

Those who are grateful will be more diligent in worship and work because their gratitude has exceeded their patience – no wonder God often praises them.

Those who never forget to be grateful are those who start the day with positive energy; not by lamenting the suffering, let alone nosy seeing the success of others.

Do not be lazy.
Do not give up.
Do not forget to be grateful.

Bismillahi tawakaltu ‘alallah wa la hawla wa la quwwata illa billah

Greeting,

Nadirsyah Hosen

Indonesian: Tiga “Jangan” Dalam Hidup

Profil Pondok Pesantren Pancasila di Salatiga

Ponpes.net – Sebuah pondok pesantren (ponpes) yang terletak di Dusun Klumpit, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga mempunyai nama yang unik. Namanya, Pondok Pesantren ” Pancasila”.

Pesantren Pancasila sendiri bercorak salafiyah ini telah berkembang dan dikolaborasikan dengan sistem modern.

“Nama Pancasila sendiri, supaya lebih mudah memasyarakat dan mudah diingat,” kata Kiai Muhlasin, pendiri Ponpes Pancasila, saat ditemui pada Selasa (30/5/2017) petang.

Nama Pancasila ini terbukti membawa berkah. Bermula dari tanah seluas 700 meter persegi yang diwakafkan keluarga Haji Jumadi dan Hajah Marmi, Ponpes yang berdiri 10 September 1992 ini mendapat simpati dari masyarakat luas.

Sejumlah warga seperti Mukson, Haji Kaseh, Rahmad, dan Jarkimin dengan sukarela mewakafkan tanah mereka. Tanah tersebut digunakan untuk akses jalan dari asrama putra sampai ke jalan raya sepanjang kurang lebih 50 meter dengan lebar 2 meter.

“Berkat dukungan masyarakat, Pondok semakin berkembang dan alhamdulillah santri mulai banyak yang mengaji. Mulai dari usia SD sampai mahasiswa meski bangunannya seadanya. Santri putra bertempat di lantai satu dan santri putri di lantai dua,” lanjutnya.

Melihat kondisi ini, Kiai Muhlasin merasa prihatin lantaran lokasi asrama santri putra dan putri menjadi satu. Ia ingin memperluas pondok, namun terbentur dengan keterbatasan tanah.

Kiai Muhlasin melihat ada sebidang tanah yang cukup luas, berada 50 meter di sebelah barat Pondok yang dipisahkan dengan permukiman penduduk.

Namun tanah tersebut dimiliki Yayasan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang rencananya akan dibangun perumahan.

Meski sempat ragu, Kiai Muhlasin memberanikan diri untuk membeli tanah tersebut guna perluasan pondok. Di luar dugaannya, pihak UKSW melepaskan tanah tersebut.

“Tanah tersebut kavlingan UKSW yang mana kepemilikan tanahnya punya sebelas pendeta. Alhamdulillah pada 9 September 1999 pondok dapat membebaskan tanah tersebut, kemudian dibangunlah asrama putri Ponpes Pancasila Darul Muhlasin,” ujarnya.

Kiai Muhlasin mengaku, rasa pesimistis itu muncul karena perbedaan keyakinan antara dirinya dengan pemilik tanah. Selain itu, lokasi tanah yang berada di Jalan Fatmawati Salatiga ini sangat strategis dan bernilai ekonomi tinggi lantaran berada di dekat jalur utama Semarang-Solo.

Namun keraguannya itu akhrinya terbantahkan. Pendeta menyetujui permintaan Kiai Muhlasin.
“Alhamdulillah dilepas dengan harga normal,” tandasnya.

“Tidak apa-apa pak Kiai. Kita sama-sama penggembala,” kata Kiai Muhlasin, menirukan ucapan salah seorang pendeta yang ia temui saat itu.

Tahun 2004 silam, SMK Elektro Pancasila telah terbangun di sebelah selatan asrama putra dan dibukanya Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau setara SMP pada 2008 di sebelah barat asrama putri.

Para alumninya tersebar di berbagai daerah di Indonesia, baik di Jawa maupun luar Jawa seperti Pontianak, Jambi, Lampung, Padang. Para alumninya juga banyak yang telah mendirikan pondok pesantren dengan jumlah santri ribuan orang.

“Tercatat ada 26 pesantren yang didirikan para alumni. Di Kabupaten Semarang misalnya, ada pesantren Al Mina dan Nurul Amal di Bandungan, di Jambi ada pesantren Al Inayah Jambi itu punya 2.000 santri sekarang,” ucapnya.

Tidak hanya nama pondok saja yang nasionalis, Kiai Muhlasin mengajarkan sikap, pandangan dan ajaran Islam yang washatiyah (moderat) dan Islam rahmatan lil’alamin. Tak heran pesantren ini kerap dikunjungi para pejabat, mulai dari bupati, wali kota, gubernur, hingga menteri.

“Mudah-mudahan keberadaan Ponpes Pancasila bisa membawa keberkahan dan kemanfaatan bagi masyarakat. Hanya Pak Presiden saja yang belum kesini,” kelakar Kiai Muhlasin.

Sumber: Kompas

Warna-warni Keindahan Islam

Ponpes.net – Ada berapa warna dalam Islam? Ada yg menjawab cuma hitam. Lihatlah pakaian perempuan yg membungkus rapat Muslimah di Saudi Arabia: Hitam. Lihatlah kiswah ka’bah: hitam. Hajar aswad: hitam.

Islam itu hitam. Begitu kata pengamat asing. Tapi bukankah lelaki bergamis putih? Bersurban putih-merah ala raja Salman atau putih-hitam ala Yaser Arafat. Jadi mana yang benar?

Tak bolehkah ada warna lain? Nanti dulu bukankah ada pula warna hijau? Bukankah di surga kelak kita akan mengenakan pakaian hijau sesuai info yang disampaikan al-Qur’an? (Lihat misalnya al-Kahfi:31)

Lalu bagaimana dengan warna kesenangan Rasulullah SAW?

Abu Dawud mencantunkam dalam Sunan-nya bahwa Nabi mengenakan kain berwarna hijau. Riwayat Tabarani dari Anas mengatakan Rasul paling suka warna hijau.

Jadi hijau adalah ciri warna Islam?

Tapi riwayat dari Sahih Muslim menyebutkan sabda Nabi: “kelak Dajjal diikuti Yahudi Isfahan sebanyak 70 ribu, mereka memakai syal warna hijau”

Nah, lho!

Bagaimana dengan warna kuning?

Riwayat Abu Dawud menceritakan bahwa Rasul mewarnai janggutnya dengan warna kuning (kunyit). Riwayat imam an-Nasa’i mengabarkan Rasul mencelup baju dan surban beliau warna ini dan tidak ada pewarna lain yang beliau sukai selain warna kuning ini. Tapi di riwayat lain disebutkan Rasul tidak suka lelaki memakai pakaian kuning dan juga merah. Mana yang benar? Wa Allahu a’lam.

Dalam riwayat lain (Abu Dawud, Ibn Majah dan Tirmidzi) disebutkan Nabi senang warna putih. Baik Imam Ghazali, dalam kitab Ihya, maupun Imam Ibn Abidin dalam kitab Radd al-Muhtar menyebutkan pula hal yang sama: Rasul senang warna putih. Kita tahu keduanya berbeda mazhab: yang disebut pertama bermazhabkan Syafi’i dan nama yang disebut terakhir berasal dari mazhab Hanafi. Ibn Qayyim, yang bermazhab Hanbali, juga akur: favorit Rasul adalah warna putih.

Rasul pernah berkhutbah dengan memakai surban hijau, hitam, bahkan ada juga riwayat yang bilang merah.

Yang jelas riwayat yang berbeda di atas menunjukkan bahwa Rasul tidak segan memakai warna pakaian yang ada yang diterima oleh tradisi masyarakat saat itu. Beliau tidak mengenakan warna maupun jenis pakaian yang bertolak belakang dengan kondisi saat itu.

Jadi apa warna Islam? Jawabannya warna-warni.

Perhatikanlah foto ini. Bagaimana payung yang warna-warni dikembangkan di depan Ka’bah yang tertutup kiswah hitam. Andaikata kita bisa menikmati keindahan perbedaan warna ini tentu kita akan bisa memaknai pula satu hal penting: persatuan dan kesatuan itu bukan dengan cara memaksa orang untuk sama seragam. Ukhuwah juga bisa dicapai lewat keberagaman.

Lihatlah, persatuan dalam keragaman itu indah. Semua warna bergerak kompak memutari Ka’bah. Inilah Islam!

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Tiga “Jangan” Dalam Hidup

Ponpes.net – Pertama, jangan malas! Konon salah satu penyakit yang tidak ada obatnya itu adalah penyakit malas. Banyak hal yang menyebabkan kita dilanda kemalasan. Orang yang banyak masalah biasanya menjadi malas. Begitupula orang yang tidak punya target dalam hidup biasanya senang bermalas-malasan.

Orang yang terkena penyakit malas dia akan membuang waktunya tanpa melakukan apapun seolah waktu itu tidak berharga baginya. Orang malas cenderung menggampangkan persoalan dengan menunda-nunda mengerjakannya. Itulah sebabnya salah satu doa yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk kita baca itu agar kita berlindung kepada Allah dari rasa malas.

Kedua, jangan putus asa! Biasanya orang malas akan cenderung mudah menyerah. Tidak punya spirit of fighting. Dia menganggap untuk apa berjuang toh hasilnya pasti kalah juga. Ini orang yang sudah kalah sebelum bertanding.

Alih-alih mengatur strategi dalam hidup, kita cenderung menerima keadaan dan tidak lagi mau berikhtiar. Anda boleh saja terlilit hutang, ditinggalkan kekasih, diberi cobaan penyakit, didera berbagai fitnah, namun apapun itu selama anda tidak berputus asa, anda masih bisa bangkit kembali.

…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.’(QS. 12:87)

Buat yang suka menuding orang lain kafir hanya karena berbeda pendapat, baca deh ayat di atas: jangan-jangan kita pun juga masuk kategori kafir kalau kita mudah putus asa dari rahmat Allah.

Orang yang putus asa itu seolah tidak percaya bahwa Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuan kita; tidak yakin bahwa bahkan binatang melata pun Allah beri rejeki; tidak percaya diri bahwa sesuai janji Allah dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.

Ketiga, jangan lupa bersyukur! Mereka yang malas dan mudah putus asa biasanya jarang bersyukur. Apa yang mau disyukuri, lha wong hidup kami ancur-ancuran begini? Begitu biasanya dalih mereka.

Tapi kawan selama nafas masih ada dan selama mentari masih bersinar hidup kita ini layak untuk kita syukuri. Tengoklah sekeliling kita: betapa banyak orang lain yang sebenarnya jauh lebih menderita ketimbang kita.

Gak percaya? Tanyakanlah pada para pemulung yang kebingungan melihat kita ngedumel karena koneksi wifi yang lemot; tengoklah mereka yang tidur beratapkan langit dan diterangi kerlip bintang sementara kita terus menggerutu listrik PLN yang byar-pet; dan dengarkan pengamen kecil yang bersenandung riang mengetuk kaca mobil kita di lampu merah sementara kita stress kehilangan proyek.

Mereka yang pandai bersyukur artinya percaya bahwa Allah akan menambah nikmat yang ada –entah kapanpun atau bagaimanapun caranya.

Mereka yang tetap bersyukur meski diuji dengan berbagai cobaan akan lebih optimis memandang masa depan –semua akan indah pada waktunya.

Mereka yang bersyukur akan semakin rajin beribadah dan bekerja karena syukur mereka telah melampaui kesabaran mereka — tidak heran Allah kerap memuji mereka.

Mereka yang tidak pernah lupa bersyukur adalah mereka yang memulai harinya dengan energi positif; bukan dengan meratapi penderitaan, apalagi nyinyir melihat kesuksesan orang lain.

Jangan malas.
Jangan mudah putus asa.
Jangan lupa bersyukur.

Bismillahi tawakaltu ‘alallah wa la hawla wa la quwwata illa billah

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Gagal mengambil konten.