Artikel

Al Quran: Petunjuk dan Penjelas Segala Sesuatu (2)

Ponpes.net – Di dalam banyak ayat-Nya, Allah SWT telah mengenalkan Al Quran sebagai petunjuk, pedoman hidup, kabar (gembira dan peringatan), rahmat, dan bahkan penjelas segala sesuatu. Di dalamnya terdapat seperangkat aturan hidup untuk manusia atau hukum-hukum syara’ secara keseluruhan, berkaitan dengan perkara ibadah, mu’amalah, ‘uqubat (sanksi) ataupun math’umat (yang berkaitan dengan makanan). Dari sini, dapat kita katakan bahwa Al Quran mengatur tiga dimensi kehidupan manusia, yaitu hubungan manusia dengan Penciptanya (terkait akidah dan ibadah), hubungan manusia dengan dirinya (terkait makanan, minuman, pakaian serta akhlak) serta hubungan manusia dengan sesama manusia (terkait perkara muamalah dan ‘uqubat). Berikut beberapa dalil, diantaranya:

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah [2]: 110).

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah [2]: 183).

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. Al Ahzab [33]: 59).

Baca juga: Al Quran: Petunjuk dan Penjelas Segala Sesuatu (Bag I)

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)“. (QS. Luqman [31]: 17).

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong” (QS. Al Hajj [22]: 78).

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu(sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya“. (QS. Al Baqarah [2]: 275).

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksakarena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. Al Maidah [5]: 3).

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“. (QS. Al Maidah [5]: 38).

Katakanlah: “Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”” (QS. Al An’aam [6]: 57).

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“. (QS. An Nisaa’ [4]: 59)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah [5]: 50).

Ketika telah memahami dan meyakini bahwa Al Quran itu shahih (benar) dan sempurna. Lantas, masihkah dan pantaskah kita ragu untuk mengambilnya, mengkajinya, meyakininya, mendakwahkannya dan menerapkannya dalam segenap aspek kehidupan kita (manusia)?

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan“. (QS. Al Anfaal [8]: 24).

Masih terdapat banyak ayat lainnya sebagai seruan dari Allah SWT, Pembuat hukum yang mengatur perbuatan manusia mulai aktivitas bangun tidur hingga mengatur urusan masyarakat. Karenanya, ketika telah memahami dan meyakini bahwa Al Quran itu shahih (benar) dan sempurna. Lantas, masihkah dan pantaskah kita ragu untuk mengambilnya, mengkajinya, meyakininya, mendakwahkannya dan menerapkannya dalam segenap aspek kehidupan kita (manusia)?

Wallahu ‘alam bi ash-shawwab.

Ditulis oleh: Ismi Tri Wahyuni.

Tentang penulis

Redaksi

Pengatur lalu lintas konten yang berlalu-lalang di website ini, termasuk menyunting berbagai artikel yang masuk via email. Ingin mengirim artikel tentang dunia pesantren? Bisa melalui ponpesnet[at]gmail[dot]com

Yuk komen

Tulis komentar kamu di sini

14 − 11 =

Quote

Jadilah seperti matahari bagi memberi dan mengasihi
Jadilah seperti malam untuk menutupi kesalahan orang lain
Jadilah seperti alir air untuk kemurahan hati
Jadilah seperti maut untuk kesumat dan amarah
Jadilah seperti bumi untuk kerendahan hati
Muncullah sebagaimana kamu
Jadilah sebagaimana kamu muncul

– Maulana Jalaluddin Rumi –