Artikel

Al Quran: Petunjuk dan Penjelas Segala Sesuatu (1)

Ponpes.net – Sebagai seorang muslim yang mengimani Allah SWT sebagai Pencipta dan Pengatur Hidup Manusia, tentulah wajib juga mengimani apa-apa yang Allah SWT kabarkan di dalam Al Quran, sebab Al Quran merupakan kalamullah (perkataan Allah SWT). Tidak akan meragu dengan apa-apa yang Allah SWT firmankan di dalamnya, sebagaimana dalam surat Al Baqarah (2): 2 bahwa “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”.

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An Nahl [16]: 89).

Asal Muasal Al Quran

Sebelum memahami apa saja yang terdapat dalam Al Quran, sejenak memahami terlebih dahulu bukti asal muasal Al Quran. Mengenai bukti bahwa Al Quran itu datang dari Allah SWT, dapat dilihat dari kenyataan bahwa Al Quran adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Dalam menentukan darimana asal Al Quran, akan kita dapatkan tiga kemungkinan. Pertama, kitab itu adalah karangan orang Arab. Kedua, karangan Muhammad SAW. Ketiga, berasal dari Allah SWT. Tidak ada lagi kemungkinan selain dari yang tiga ini. Sebab, Al Quran adalah berciri khas Arab, baik dari segi bahasa maupun gayanya.

Kemungkinan pertama yang mengatakan bahwa Al Quran adalah karangan orang Arab, tidak dapat diterima. Sebab, Al Quran sendiri telah menantang mereka untuk membuat karya yang serupa. Sebagaimana tertera dalam ayat “Katakanlah: ‘Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat)menyamainya” (QS. Hud [11]: 13). Di dalam ayat lain “Katakanlah: (‘Kalau benar apa yang kamu katakan), maka cobalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya” (QS. Yunus [10]: 38).

Orang-orang Arab telah berusaha keras mencobanya, akan tetapi tidak berhasil. Hal ini membuktikan bahwa Al Quran bukan berasal dari perkataan mereka. Mereka tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, kendati ada tantangan dari Al Quran dan mereka telah berusaha menjawab tantangan itu. Kemungkinan kedua yang mengatakan bahwa Al Quran itu karangan Muhammad SAW, juga tidak dapat diterima oleh akal.

Sebab, Muhammad SAW adalah orang Arab juga. Bagaimanapun jeniusnya, tetap ia sebagai seorang manusia yang menjadi salah satu anggota dari masyarakat atau bangsanya. Selama seluruh bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, maka masuk akal pula apabila Muhammad—yang juga termasuk salah seorang dari bangsa Arab— tidak mampu menghasilkan karya yang serupa. Karena itu, jelas bahwa Al Quran itu bukan karangannya.

Terlebih lagi dengan adanya banyak hadits-hadits shahih yang berasal dari Nabi Muhammad SAW, yang sebagian malah diriwayatkan lewat cara yang tawatur, yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Apabila setiap hadits ini dibandingkan dengan ayat manapun dalam Al Quran, maka tidak akan dijumpai adanya kemiripan dari segi gaya bahasanya. Padahal Nabi Muhammad SAW, disamping selalu membacakan setiap ayat-ayat yang diterimanya, dalam waktu yang bersamaan juga mengeluarkan hadits. Namun, ternyata keduanya tetap berbeda dari segi gaya bahasanya.

Di dalam banyak ayat-Nya, Allah SWT telah mengenalkan Al Quran sebagai petunjuk, pedoman hidup, kabar (gembira dan peringatan), rahmat, dan bahkan penjelas segala sesuatu.

Bagaimanapun kerasnya usaha seseorang untuk menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap saja akan terdapat kemiripan antara gaya yang satu dengan yang lain, karena merupakan bagian dari ciri khasnya dalam berbicara. Karena tidak ada kemiripan antara gaya bahasa Al Quran dengan gaya bahasa hadits, berarti Al Quran itu bukan perkataan Nabi Muhammad SAW. Masing-masing dari keduanya terdapat perbedaan yang tegas dan jelas. Itulah sebabnya tidak seorang pun dari bangsa Arab —orang-orang yang paling tahu gaya dan sastra bahasa Arab— pernah menuduh bahwa Al Quran itu perkataan Muhammad SAW, atau mirip dengan gaya bicaranya.

Satu-satunya tuduhan yang mereka lontarkan adalah bahwa Al Quran itu disadur Muhammad SAW dari seorang pemuda Nasrani yang bernama Jabr. Tuduhan ini telah ditolak keras oleh Allah SWT dalam firman-Nya, yang artinya: “(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui mereka berkata: ‘Bahwasanya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa ‘ajami (non-Arab), sedangkan Al Quran itu dalam bahasa arab yang jelas” (TQS. An-Nahl [16]: 103)

Apabila telah terbukti bahwa Al Quran itu bukan karangan bangsa Arab, bukan pula karangan Muhammad SAW, berarti Al Quran itu adalah kalamullah, yang menjadi mukjizat bagi orang yang membawanya. Dan karena Nabi Muhammad SAW adalah orang yang membawa Al Quran —yang merupakan kalamullah dan syariat Allah, serta tidak ada yang membawa syariat-Nya melainkan para Nabi dan Rasul— maka berdasarkan dalil aqli dapat diyakini secara pasti bahwa Muhammad SAW itu adalah seorang Nabi dan Rasul. Inilah dalil aqli tentang iman kepada Allah, kerasulan Muhammad SAW, dan bahwa Al-Quran itu merupakan kalamullah.

Dipertegas dalam terjemahan QS. Yunus (10): 37 tentang kemurnian Al Quran bahwa “Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.”

Tentang penulis

Redaksi

Pengatur lalu lintas konten yang berlalu-lalang di website ini, termasuk menyunting berbagai artikel yang masuk via email. Ingin mengirim artikel tentang dunia pesantren? Bisa melalui ponpesnet[at]gmail[dot]com

Komentar

Tulis komentar kamu di sini

10 + 4 =

Quote

Jadilah seperti matahari bagi memberi dan mengasihi
Jadilah seperti malam untuk menutupi kesalahan orang lain
Jadilah seperti alir air untuk kemurahan hati
Jadilah seperti maut untuk kesumat dan amarah
Jadilah seperti bumi untuk kerendahan hati
Muncullah sebagaimana kamu
Jadilah sebagaimana kamu muncul

– Maulana Jalaluddin Rumi –