Berita

Santri Yayasan Al Mina Semarang Kembangkan Greenhouse

Ponpes.net – Panen perdana tanaman tomat jenis cherry dan beef di greenhouse milik Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah Al Mina, Bandungan, Kabupaten Semarang belum lama ini berhasil menembus pasar modern.

Terdapat dua greenhouse yang cukup modern dengan penerapan grade system atau pengairan sistem tetes. Dalam waktu dekat, para santri Al Mina akan memperbanyak bangunan greenhouse.

Hasil panen tomat dari budidaya sistem hidroponik ini untuk pengembangan bangunan dan fasilitas yayasan sendiri.

“Hasilnya untuk pegembangan pondok dan untuk santri. Santri ini operasional banyak, beli kitab, untuk makan dan lainnya. Kalau minta dari wali santri terus juga kasihan, mungkin (nanti) bisa sampai gratis,” ungkap Ketua Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah Al Mina, Saeful Nadzir,.

Selain tomat, sayur lainnya yang sedang dikembangkan adalah selada putih, selada merah, dan cabai jenis paprika. Ketiga jenis sayuran ini peluang pasarnya cukup besar di Jawa Tengah dan DIY.

Menurut Nadzir, jika seluruh tanaman yang dikembangkan melalui pertanian hidroponik ini berhasil, maka dalam waktu dekat, tenaga pendamping dan para santri bercita-cita ingin mewujudkan wisata edukasi.

Pihaknya sudah menyiapkan lahan sekitar satu hektar di lingkungan pondok yang berlokasi di Dusun Ngawinan, Desa Jetis, Kecamatan Bandungan, untuk bisa dikembangkan lebih luas lagi.

Keberadaan wisata edukasi pertanian hidroponik ini sekaligus melatih jiwa kewirausahaan para santri, sebagai bekal kelak jika mereka telah lulus.

“Sekarang ada 70 santri mukim, yang kalong hampir 300an. Sedangkan formalnya ada RA hingga SMK boarding school, ada pertanian dan kewirausahaan. Jika ada wisata edukasi, santri bisa bergaul, bersosialisasi dengan masyarakat, istilahnya program vokasi ponpes,” tandasmya.

Senada, Ketua Pengurus Ponpes Al Mina, Mohammad Afdi Rizal menambahkan, dia bersama pendamping dan pengurus mempunyai prinsip bahwa seorang santri itu harus bisa mengaji, melek teknologi, dan siap mandiri.

Maka bantuan Presiden untuk pemberdayaan santri ini menurutnya sangat tepat sasaran, menyusul lokasi pondok pesantren di daerah pegunungan yang iklimnya sangat cocok untuk budidaya tanaman sayuran. Didukung para pendamping yang profesional di bidangnya.

Alhamdulillah merk Al Mina Fresh ini sudah tembus Transmart dan ke depan sudah dinanti beberapa toko modern lainnya,” kata Gus Rizal, panggilan karib Mohammad Afdi Rizal.

Menurut Gus Rizal, pertanian hidroponik dengan sistem greenhouseyang diajarkan kepada para santri mempunyai keunggulan, antara lain lebih tahan terhadap serangan hama dan perubahan cuaca. “Lebih steril, sehingga mutu produksi lebih terjamin,” tandasnya.

Laboratorium Pertanian

Pengelolaan lahan pertanian hidroponik ini setiap hari dilakukan oleh para santri Al Mina secara bergantian.

Sebagaimana aturan di Pondok Pesantren Salafiah, pengurus pondok membuatkan jadwal bagi santri putra dan santri putri secara terpisah untuk merawat tanaman di greenhouse.

Para santri yang piket ini juga diberikan tugas yang berbeda-beda setiap harinya. Seperti Lailatul Mashuroh (16), siswa kelas II SMK Al Mina. Ia piket setiap hari Kamis dan Senin sore, serta Sabtu pagi.

Jika bertugas pagi, Masruroh membantu penyerbukan dengan cara menggerakkan batang tanaman secara perlahan agar serbuk sari bisa menempel pada stigma. Sebab tanaman tomat adalah tanaman hermafrodit atau bisa bereproduksi dalam satu bunga.

“Juga miwil atau memotong tangkai yang tidak perlu. Kalau piket sore itu membelokkan arah batang dengan media tali, biar tumbuhnya lurus ke atas, kemudian mengecek air grade system ini,” kata santri asal Karanglo, kecamatan Bandungan ini.

Pembelajaran dari para tenaga pendamping mulai dari bagaimana cara menanam, merawat, pemanenan hingga pemasaran ini rupanya menarik minat para santri untuk menggeluti pertanian hidroponik ini.

Alvian Mohammad (13), santri asal Ampel Gading, Desa Kenteng Ambarawa ini mengaku mendapat jatah piket setiap hari Rabu. Meski awalnya sedikit terpaksa, kini siswa kelas 13 MTs Al Mina ini mengaku sangat menyukai program dari pondok pesantrennya ini.

Bahkan kelak ia bercita-cita mempunyai greehouse sendiri. “Kami malah diajari mulai dari cara membuat sekam sebagai bahan media tanamnya. Sangat tertarik, pengen bikin sendiri,” kata Alvian.

Kembali menurut Saeful Nadzir, santri yang ada di sejumlah pesantren di pelosok nusantara ini ibarat mutiara yang terpendam.

Dengan bantuan Presiden ini bisa menggali potensi mereka, agar kelak para santri ini tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan terbebas dari praktik komodifikasi ilmu agama dengan alasan keterbatasan ekonomi.

“Bahwa intan-intan mutiara sampai di pegunungan ini bisa digali. Cerdas dan sukses bukan untuk orang kaya saja, tetapi orang desa, orang miskin, juga berhak mendapat kesempatan yang sama,” pungkasnya.

Sumber: Kompas

Tentang penulis

Redaksi

Pengatur lalu lintas konten yang berlalu-lalang di website ini, termasuk menyunting berbagai artikel yang masuk via email. Ingin mengirim artikel tentang dunia pesantren? Bisa melalui ponpesnet[at]gmail[dot]com

Komentar

Tulis komentar kamu di sini

twenty + fourteen =

Quote

Jadilah seperti matahari bagi memberi dan mengasihi
Jadilah seperti malam untuk menutupi kesalahan orang lain
Jadilah seperti alir air untuk kemurahan hati
Jadilah seperti maut untuk kesumat dan amarah
Jadilah seperti bumi untuk kerendahan hati
Muncullah sebagaimana kamu
Jadilah sebagaimana kamu muncul

– Maulana Jalaluddin Rumi –