Humor

Nama dan Hafalan Surat

Ponpes.net – Tiga orang santri memang tengah tergila-gila akan kecantikan putri sang Kyai tempat mereka mondok. Sebut saja Fatimah (25), putri sang kyai yang memiliki wajah cantik, patuh sama orang tua, pinter, rajin, alim dan pastinya sholehah.

Setiap hari ke 3 santri ini sedang bercengkrama di halaman, dan secara tiba-tiba sang putri Kyai lewat bersama sang Ibunda pulang dari pasar.

‘Assalamualaikum Umi’ sapa ke tiga santri terhadap Istri sang Kyai dan Fatimah.

‘Wa’alikumsalam Warahmatulloh Wabarokatuh’ jawab istri Kyai dan Fatimah.

Ketiga pemuda tersebut pun terkesima melihat kecantikan wajah Fatimah yang terlihat bercahaya pagi itu.

Singkat cerita, ketiga pemuda tadi memberanikan diri untuk melamar Fatimah, putri sang Kyai.

Malam itu tiga pemuda datang bertamu ke rumah seorang kiai. Mereka mempunyai hajat yang sama, yaitu hendak melamar anak gadis Pak Kiai.

“Siapa namamu?” tanya si kiai kepada pemuda pertama.

“Anas, Kiai.”

“Namamu bagus itu. Maksud kedatangan?”

“Mau melamar putri njenengan, Kiai”

“Oh iya? Kalau gitu saya tes dulu ya.. Coba kamu baca surat an-Nas sesuai dengan namamu.”

“Baik, Kiai…. ”

Lalu dia membaca surat an-Nas dengan lancar. Pak Kiai manggut-manggut.

“Kamu… Siapa namamu?” Pak Kiai menatap pemuda kedua.

” Thoriq, Kiai.”

“Hmmm, nama yang bagus. Sekarang tesnya sama ya… Kamu baca surat At-Thoriq.”

“Baik, kiai… ”

Lalu pemuda kedua itu pun membaca surat At-Thoriq dengan lancar. Pak kiai manggut-manggut sambil menatap pemuda ketiga yang tampak pucat.

“Nah, kamu! Siapa namamu?”

Si pemuda ketiga berkeringat dingin. Dengan gemetar dia jawab, “Imron, Kiai… tapi biasa dipanggil Qulhu.”

“Hah?!!”

~Nama kamu siapa?~

Tentang penulis

Redaksi

Pengatur lalu lintas konten yang berlalu-lalang di website ini, termasuk menyunting berbagai artikel yang masuk via email. Ingin mengirim artikel tentang dunia pesantren? Bisa melalui ponpesnet[at]gmail[dot]com

Yuk komen

Tulis komentar kamu di sini

fourteen + seven =

Quote

Jadilah seperti matahari bagi memberi dan mengasihi
Jadilah seperti malam untuk menutupi kesalahan orang lain
Jadilah seperti alir air untuk kemurahan hati
Jadilah seperti maut untuk kesumat dan amarah
Jadilah seperti bumi untuk kerendahan hati
Muncullah sebagaimana kamu
Jadilah sebagaimana kamu muncul

– Maulana Jalaluddin Rumi –