Di dapur pondok, terjadi diskusi Nahwu antara Mbah Natshir (santri senior) dan Kang Dun alas Sudrun (santri tengil).
Natshir: “Din, Coba jawab, “ismun” itu kalimah apa?”
Dun: “Ya kalimah isim lah, Kang”
Natshir: “Wah, Pinter sampeyan. Lah kalau “fi’lun” kalimah apa?”
Dun: “Kalimah fi’il”
Natshir: “Salah!!”
Dun: “Lah, gini-gini saya ngaji Jurmiyah khatam 15x dari dulu sampai sekarang, yg namanya fi’lun itu ya kalimah fi’il, Kang!”
Natshir: “Sekali salah ya salah. Fi’lun itu juga kalimah isim, lha wong dibelakangnya ada tanwin. Ingat kata Imam Dawud As-Shonhaji, “Fal ismu yu’rofu bil-khofdli wat-tanwiini wa dukhuulil alifi wal-laami wa khuruufil khofdli”
Dun: “Asem kowe, ngerjani orang tua!” Dun mulai berpikir keras.
Setelah menyedot rokok sufi yag terbuat dari tembakau padud serta menyeruput kopi keron bin intip, akhirnya Sudrun mendapat ide.
Dun: “Kang, lafal “Jakarta” itu isim apa fi’il?
Natshir: “Lha pertanyaan seperti itu kok ditanyakan. Ya jelas isim lah.”
Dun: “Salah! ‘Jakarta’ itu kalimah fi’il.”
Natshir: “Dun, sampeyan khatam Jurmiyah 15x lha kok sampeyan bilang ‘Jakarta’ itu kalimah fi’il? Kan sudah jelas ‘Jakarta’ itu nama kota. Itu isim ‘alam, bagian dari isim ma’rifat. Ingat kata Imam Syarofuddin Yahya Al-Imrithi: “Tsaanil ma’arifis syahiiru bil ‘alam # Ka-ja’farin wa-makkata wa kal-harom.”
Dun: “Salah ya salah saja, Kang! Tidak usah ngeyel. Dengerin ya kang. Jakaro-jakaroo-jakaruu-jakarot-jakarotaa-jakarna-JAKARTA. Tuh kan? Jadi ‘Jakarta’ itu fi’il madli mabni ma’lum.”
Natshir: “Hahaha… Dasar bocah gemblung!”
Yuk komen