Pelatihan Internet Marketing Santri

Ponpes.net – Seorang santri harus juga mengikuti perkembangan zaman serba-online seperti sekarang. Ikutilah Pelatihan Internet Marketing Santri pada tanggal 23 Agustus s.d 20 Oktober 2017 yang akan dilaksanakan di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Acara tersebut diselenggarakan oleh IMNU (Internet Marketing Nahdlatul Ulama, PPM Aswaja dan LTN NU.

Keutamaan Ibadah Haji

Ponpes.net – Allah azza wa jalla berfirman dalam surat al-Hajj : 27

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,”

Ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim agar mengumumkan kewajiban haji kepada seluruh manusia, maka beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بَنَى بَيْتًا فَحُجُّوْهُ

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah azza wa jalla telah membangun bait, maka hajilah kalian ke sana”

Allah ta’ala berfirman (QS: al-Hajj : 27)

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka”

Dalam menafsirkan kata manafi’ (berbagai manfaat) ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah dagangan di musim haji dan pahala di akhirat. Ketika sebagian ulama’ salaf mendengar ayat ini, beliau berkata, “Semoga Allah mengampuni mereka demi Tuhannya Ka’bah.”

Di dalam menafsirkan firman Allah azza wa jalla (QS: al-A’raaf : 16)

“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,”

Ada ulama yang berpendapat bahwa yang dikehendaki adalah jalan menuju Makkah. Syetan duduk di sana karena untuk mencegah manusia dari menempuh jalan tersebut. Baginda Nabi shallallahu alaihi wassallam bersabda,

مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفَثْ وَلَمْ يَفْسُقْ خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Orang yang haji ke Baitullah, kemudian ia tidak berbicara kotor dan tidak berbuat fasiq, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti di hari saat ia dilahirkan ibunya.”

Baginda Nabi shallallahu alaihi wassallam juga bersabda:

مَا رُؤِيَ الشَّيْطَانُ فِيْ يَوْمٍ أَصْغَرَ وَلَا أَدْحَرَ وَلَا أَحْقَرَ وَلَا أَغْيَظَ مِنْهُ يَوْمَ عَرَفَةَ

“Setan tidak pernah terlihat di satu hari dalam kondisi lebih hina, lebih tertolak, lebih terlecehkan, dan lebih marah daripada kondisinya di hari Arafah.”

Semua itu tidak lain karena setan melihat turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT terhadap dosa-dosa besar yang dilakukan oleh orang yang melakukan ibadah haji. Karena ada yang mengatakan bahwa di antara dosa-dosa ada dosa yang tidak bisa terhapus kecuali dengan melakukan wukuf di Arafah. Dan sesungguhnya Ja’far ibn Muhammad memusnad-kan keterangan tersebut kepada baginda Rasulullah shallallahu alaihi wassallam. Sebagian ahli kasyaf (para sufi) dari orang-orang muqarrabin (orang yang dekat dengan Allah SWT) menyebutkan bahwa sesungguhnya iblis pernah menampakkan diri pada beliau dalam bentuk seorang manusia di Arafah.

Saat itu, setan dalam kondisi kurus, pucat, menangis serta hancur punggungnya. Beliau bertanya kepada setan, “Apa yang membuat matamu menangis ?.” Setan menjawab, “Berangkatnya orang yang haji ke Baitullah tanpa berdagang. Aku berkata, ‘Sesungguhnya manusia menuju ke Baitullah, aku takut Allah tidak menghampakan harapan mereka, sehingga hal itu bisa membuatku sedih.’.” Beliau berkata, “Apa yang membuat badanmu kurus ?.” Setan menjawab, “Suara kuda di jalan Allah azza wa jalla. Seandainya kuda tersebut berada di jalanku, niscaya hal itu akan lebih aku senangi.”

Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu pucat ?.” Syetan menjawab, “Para jamaah haji saling tolong menolong di dalam melaksanakan taat. Seandainya mereka saling tolong menolong untuk melakukan kemaksiatan, niscaya akan lebih aku senangi.” Beliau bertanya, “Apa yang menghancurkan punggungmu ?.”Setan menjawab, “Ucapan seorang hamba, ‘Hamba memohon pada-Mu husnul khotimah.’ Saya berkata, ‘Sungguh celaka bagiku, kapan hamba ini merasa bangga dengan amalnya. Saya khawatir ia pintar dan cerdas.’.”

Baginda Nabi shallallahu alaihi wassallam bersabda,

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا فَمَاتَ أُجْرِيَ لَهُ أَجْرَ الْحَاجِّ الْمُعْتَمِرِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ مَاتَ فِيْ أَحَدِ الْحَرَمَيْنِ لَمْ يُعْرَضْ وَلَمْ يُحَاسَبُ وَقِيْلَ لَهُ ادْخُلِ الْجَنَّةَ

“Orang yang keluar dari rumahnya dalam rangka melaksanakan haji atau umroh, kemudian ia mati, maka ia diberi pahala orang yang melaksanakan haji dan umroh hingga hari kiamat. Orang yang mati di salah satu haram, maka ia tidak akan dihitung dan dihisap amalnya. Dan dikatakan padanya, ‘Masuklah ke surga.’.”

Baginda Nabi shallallahu alaihi wassallam bersabda,

حَجَّةٌ مَبْرُوْرَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا وَحَجَّةٌ مَبْرُوْرَةٌ لَيْسَ لَهَا جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ

“Haji mabrur lebih baik daripada dunia seisinya. Haji mabrur tidak ada balasan untuknya kecuali surga.”

Baginda Nabi shallallahu alaihi wassallam bersabda,

الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَزُوَّارُهُ إِنْ سَأَلُوْهُ أَعْطَاهُمْ وَإِنِ اسْتَغْفَرُوْهُ غَفَرَ لَهُمْ وَإِنْ دَعَوْا اسْتُجِيْبَ لَهُمْ وَإِنْ شَفَعُوْا شُفِّعُوْا

“Orang-orang yang haji dan orang-orang umroh adalah tamu Allah azza wa jalla dan orang-orang yang berkunjung pada-Nya. Jika mereka memohon kepada Allah, maka Allah akan memberi mereka. Jika mereka memohon ampun kepada Allah, maka Allah mengampuni mereka. Jika mereka berdo’a, maka doa mereka dikabulkan. Dan jika mereka memintakan syafaat, maka permintaan mereka dikabulkan.”

Sumber: islami.co

Hikmah: Kumpulan Nasihat Ahmad Ibn Hanbal

Ponpes.net – Sebagai Imam Besar pendiri Mazhab Hambali, Imam Ahmad ibn Hanbal telah melalui perjalanan hidup yang begitu luar biasa. Ketika beliau telah mengambil komitmen untuk melakukan pencarian di jalan hadis, proses hidup beliau tidaklah mudah. Pada saat beliau hidup, banyak sekali ulama-ulama besar pada masa tersebut yang memberikan pengakuan kepada sosok seorang Imam Ahmad bin Hanbal.

Pengalaman hidup yang luar biasa serta memiliki karakter yang tekun menjadikan beliau patut untuk dijadikan suri tauladan bagi masyarakat muslim di era modern saat ini. Oleh karena itu, selain mengambil ajaran-ajaran yang telah beliau tinggalkan kepada kita, tentunya alangkah baiknya jika kita juga bisa mengambil hikmah dari kehidupan beliau.

Pada suatu hari ada seseorang datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Beritakan kepada kami amalan apakah yang paling utama?”

Beliau menjawab, “ Menuntut Ilmu.”

Orang tersebut bertanya kembali, “Bagi siapa?”

Beliau menjawab, “Bagi orang yang benar niatnya.”

Sekali lagi orang itu bertanya, “Apa saja yang bisa membenarkan niat itu?”

Beliau menjawab, “Dengan meniatkan dirinya agar bisa bertawadhu dan menghilangkan kebodohan darinya.” Selain itu beliau juga menambahkan, “Manusia sangat membutuhkan ilmu daripada kebutuhan makanan dan minuman, sebab makanan dan minuman dibutuhkan sekali dalam sehari atau lebih. Adapun ilmu, ia dibutuhkan sepanjang masa.”

Dalam proses mencari ilmu, beliau tetap mengingatkan kita, “Jangan menulis suatu ilmu dari orang yang mengambil manfaat dari duniawinya.”  Dan beliau juga mengingatkan kita, “Janganlah engkau mengikuti aku, jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i, dan Tsauri, tetapi ambillah dari mana mereka mengambil. Barang siapa yang menolak hadis Rasulullah Saw, maka sesungguhnya ia telah berada di ambang kehancuran.”

Begitulah cara beliau mengingatkan kita tentang pentingnya mencari ilmu. Beliau juga memberikan referensi ilmu terbaik, guru terbaik dan manusia tauladan terbaik sepanjang masa, yaitu Rasulullah Saw.

Selain itu, beliau juga mengingatkan kita tentang betapa pentingnya beramal di dunia ini. Karena beliau menganggap bahwa dunia ini adalah tempat beramal, sementara akhirat adalah tempat menerima balasan. Siapa yang tidak beramal di dunia ini, maka ia akan menyesal di kemudian hari.

Dan beliau juga memberikan nasihat bahwa hendaklah berzuhud dengan tidak gembira ketika harta bertambah dan bersedih ketika harta berkurang. Jalannya ilmu itu sama dengan jalannya harta. Sesungguhnya harta itu apabila bertambah maka bertambah pula zakatnya.

Jika terkumpul 4 hal dalam makanan, maka sungguh telah sempurna. Empat hal tersebut adalah jika disebutkan nama Allah pada awalnya, memuji Allah pada akhirnya, memperbanyak jumlah orang yang makan, dan diperoleh dari jalan yang halal.

Imam Ahmad bin Hambal juga sering mengingatkan tentang pentingnya ketaqwaan kepada Allah Swt dan Rasullah Saw. Beliau sering menasihati kita untuk tetap rendah hati di hadapan Allah sebagaimana kita meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika sholah.

“Tetapkanlah ketaqwaanmu itu dalam hatimu dan tegakkanlah akhiratmu itu di hadapanmu. Barang siapa yang menolak hadist akan tertolak hingga ke jurang kebinasaan. Dan, barangsiapa yang mati dalam islam dan mengikuti Sunnah Rasulullah, maka mati dalam kebaikan.” Begitu tepatnya pesan beliau.

Beliau juga menganjurkan kita untuk bertanya kepada ahli hadis dan jangan bertanya kepada ahli fikir, karena ahli hadis tidak bercakap menurut pendapatnya sendiri. Menurut beliau, orang yang menghormati ahli hadis, maka tinggilah kedudukannya di sisi Rasulullah Saw. Sedangkan orang yang menghina ahli hadis, maka hina pula kedudukannya di sisi Rasulullah saw. Imam Ahmad bin Hambal tidak hanya mengingatkan kita kepada hal-hal yang bersifat duniawiyah tetapi juga hal-hal yang bersifat rohaniah.

Imam Hambal mengingatkan kita untuk berhati-hati kepada orang yang suka berbicara. Selain itu, beliau juga menyadarkan kita untuk meragukan orang-orang yang menuduh jahat sahabat-sahabat Rasulullah. Beliau pernah berdoa dalam sujudnya: “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menjaga wajahku dari sujud kepada selain-Mu, maka jagalah wajahku dari meminta-minta kepada selain-Mu.”

Dari pesan-pesan tadi, kita dapat melihat bahwa ada nasihat-nasihat yang sempat beliau tinggalkan kepada umat muslim dunia. Nasihat-nasihat beliau dapat kita jadikan salah satu referensi di dalam pengambilan kebijakan di dalam diri kita. Namun intinya bukan seberapa hafal diri kita kepada nasihat-nasihat beliau, tetapi lebih kepada seberapa paham kita kepada intisari dari pesan-pesan beliau.

Disarikan dari buku “Biografi Empat Imam Mazhab: Riwayat Intelektual dan Pemikiran Mereka” yang ditulis oleh Uatadz Rizem Aizid.

Al Quran: Petunjuk dan Penjelas Segala Sesuatu (2)

Ponpes.net – Di dalam banyak ayat-Nya, Allah SWT telah mengenalkan Al Quran sebagai petunjuk, pedoman hidup, kabar (gembira dan peringatan), rahmat, dan bahkan penjelas segala sesuatu. Di dalamnya terdapat seperangkat aturan hidup untuk manusia atau hukum-hukum syara’ secara keseluruhan, berkaitan dengan perkara ibadah, mu’amalah, ‘uqubat (sanksi) ataupun math’umat (yang berkaitan dengan makanan). Dari sini, dapat kita katakan bahwa Al Quran mengatur tiga dimensi kehidupan manusia, yaitu hubungan manusia dengan Penciptanya (terkait akidah dan ibadah), hubungan manusia dengan dirinya (terkait makanan, minuman, pakaian serta akhlak) serta hubungan manusia dengan sesama manusia (terkait perkara muamalah dan ‘uqubat). Berikut beberapa dalil, diantaranya:

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah [2]: 110).

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah [2]: 183).

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. Al Ahzab [33]: 59).

Baca juga: Al Quran: Petunjuk dan Penjelas Segala Sesuatu (Bag I)

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)“. (QS. Luqman [31]: 17).

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong” (QS. Al Hajj [22]: 78).

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu(sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya“. (QS. Al Baqarah [2]: 275).

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksakarena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. Al Maidah [5]: 3).

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“. (QS. Al Maidah [5]: 38).

Katakanlah: “Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”” (QS. Al An’aam [6]: 57).

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“. (QS. An Nisaa’ [4]: 59)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah [5]: 50).

Ketika telah memahami dan meyakini bahwa Al Quran itu shahih (benar) dan sempurna. Lantas, masihkah dan pantaskah kita ragu untuk mengambilnya, mengkajinya, meyakininya, mendakwahkannya dan menerapkannya dalam segenap aspek kehidupan kita (manusia)?

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan“. (QS. Al Anfaal [8]: 24).

Masih terdapat banyak ayat lainnya sebagai seruan dari Allah SWT, Pembuat hukum yang mengatur perbuatan manusia mulai aktivitas bangun tidur hingga mengatur urusan masyarakat. Karenanya, ketika telah memahami dan meyakini bahwa Al Quran itu shahih (benar) dan sempurna. Lantas, masihkah dan pantaskah kita ragu untuk mengambilnya, mengkajinya, meyakininya, mendakwahkannya dan menerapkannya dalam segenap aspek kehidupan kita (manusia)?

Wallahu ‘alam bi ash-shawwab.

Ditulis oleh: Ismi Tri Wahyuni.

Al Quran: Petunjuk dan Penjelas Segala Sesuatu (1)

Ponpes.net – Sebagai seorang muslim yang mengimani Allah SWT sebagai Pencipta dan Pengatur Hidup Manusia, tentulah wajib juga mengimani apa-apa yang Allah SWT kabarkan di dalam Al Quran, sebab Al Quran merupakan kalamullah (perkataan Allah SWT). Tidak akan meragu dengan apa-apa yang Allah SWT firmankan di dalamnya, sebagaimana dalam surat Al Baqarah (2): 2 bahwa “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”.

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An Nahl [16]: 89).

Asal Muasal Al Quran

Sebelum memahami apa saja yang terdapat dalam Al Quran, sejenak memahami terlebih dahulu bukti asal muasal Al Quran. Mengenai bukti bahwa Al Quran itu datang dari Allah SWT, dapat dilihat dari kenyataan bahwa Al Quran adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Dalam menentukan darimana asal Al Quran, akan kita dapatkan tiga kemungkinan. Pertama, kitab itu adalah karangan orang Arab. Kedua, karangan Muhammad SAW. Ketiga, berasal dari Allah SWT. Tidak ada lagi kemungkinan selain dari yang tiga ini. Sebab, Al Quran adalah berciri khas Arab, baik dari segi bahasa maupun gayanya.

Kemungkinan pertama yang mengatakan bahwa Al Quran adalah karangan orang Arab, tidak dapat diterima. Sebab, Al Quran sendiri telah menantang mereka untuk membuat karya yang serupa. Sebagaimana tertera dalam ayat “Katakanlah: ‘Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat)menyamainya” (QS. Hud [11]: 13). Di dalam ayat lain “Katakanlah: (‘Kalau benar apa yang kamu katakan), maka cobalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya” (QS. Yunus [10]: 38).

Orang-orang Arab telah berusaha keras mencobanya, akan tetapi tidak berhasil. Hal ini membuktikan bahwa Al Quran bukan berasal dari perkataan mereka. Mereka tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, kendati ada tantangan dari Al Quran dan mereka telah berusaha menjawab tantangan itu. Kemungkinan kedua yang mengatakan bahwa Al Quran itu karangan Muhammad SAW, juga tidak dapat diterima oleh akal.

Sebab, Muhammad SAW adalah orang Arab juga. Bagaimanapun jeniusnya, tetap ia sebagai seorang manusia yang menjadi salah satu anggota dari masyarakat atau bangsanya. Selama seluruh bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, maka masuk akal pula apabila Muhammad—yang juga termasuk salah seorang dari bangsa Arab— tidak mampu menghasilkan karya yang serupa. Karena itu, jelas bahwa Al Quran itu bukan karangannya.

Terlebih lagi dengan adanya banyak hadits-hadits shahih yang berasal dari Nabi Muhammad SAW, yang sebagian malah diriwayatkan lewat cara yang tawatur, yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Apabila setiap hadits ini dibandingkan dengan ayat manapun dalam Al Quran, maka tidak akan dijumpai adanya kemiripan dari segi gaya bahasanya. Padahal Nabi Muhammad SAW, disamping selalu membacakan setiap ayat-ayat yang diterimanya, dalam waktu yang bersamaan juga mengeluarkan hadits. Namun, ternyata keduanya tetap berbeda dari segi gaya bahasanya.

Di dalam banyak ayat-Nya, Allah SWT telah mengenalkan Al Quran sebagai petunjuk, pedoman hidup, kabar (gembira dan peringatan), rahmat, dan bahkan penjelas segala sesuatu.

Bagaimanapun kerasnya usaha seseorang untuk menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap saja akan terdapat kemiripan antara gaya yang satu dengan yang lain, karena merupakan bagian dari ciri khasnya dalam berbicara. Karena tidak ada kemiripan antara gaya bahasa Al Quran dengan gaya bahasa hadits, berarti Al Quran itu bukan perkataan Nabi Muhammad SAW. Masing-masing dari keduanya terdapat perbedaan yang tegas dan jelas. Itulah sebabnya tidak seorang pun dari bangsa Arab —orang-orang yang paling tahu gaya dan sastra bahasa Arab— pernah menuduh bahwa Al Quran itu perkataan Muhammad SAW, atau mirip dengan gaya bicaranya.

Satu-satunya tuduhan yang mereka lontarkan adalah bahwa Al Quran itu disadur Muhammad SAW dari seorang pemuda Nasrani yang bernama Jabr. Tuduhan ini telah ditolak keras oleh Allah SWT dalam firman-Nya, yang artinya: “(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui mereka berkata: ‘Bahwasanya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa ‘ajami (non-Arab), sedangkan Al Quran itu dalam bahasa arab yang jelas” (TQS. An-Nahl [16]: 103)

Apabila telah terbukti bahwa Al Quran itu bukan karangan bangsa Arab, bukan pula karangan Muhammad SAW, berarti Al Quran itu adalah kalamullah, yang menjadi mukjizat bagi orang yang membawanya. Dan karena Nabi Muhammad SAW adalah orang yang membawa Al Quran —yang merupakan kalamullah dan syariat Allah, serta tidak ada yang membawa syariat-Nya melainkan para Nabi dan Rasul— maka berdasarkan dalil aqli dapat diyakini secara pasti bahwa Muhammad SAW itu adalah seorang Nabi dan Rasul. Inilah dalil aqli tentang iman kepada Allah, kerasulan Muhammad SAW, dan bahwa Al-Quran itu merupakan kalamullah.

Dipertegas dalam terjemahan QS. Yunus (10): 37 tentang kemurnian Al Quran bahwa “Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.”

Pesantren-pesantren Ini Akan Laksanakan Upacara 17 Agustus

Ponpes.net – Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus, diperingati dengan melaksanakan upacara bendera di berbagai tempat. Berikut ini adalah beberapa Pondok Pesantren (Ponpes) yang akan melaksanakan upacara bendera 17 Agustus yang biasa dilakukan tiap tahunnya.

1. PP. Sidogiri, Pasuruan, jam 7 Istiwa’ sd selesai, di Lapangan Baru PPS. Diikuti ribuan santri
dengan uniform kebesaran sarung hijau, baju/sonhkok putih.
2. PPTQ AL-ASY’ARIYYAH Kalibeber Mojotengah Wonosobo, di halaman Pondok. Seragam bebas ala santri ?
3. PP. Almahrusiyah Lirboyo Kediri
4. Ponpes Sunan Drajat Paciran Lamongan
5. Pesantren Ar-Raudhah Tambakrejo Pasrepan Pasuruan, asuhan KH Suadi Aboe Amar. Upacara diikuti Santri, walisantri, wali murid dan
masyarakat sekitar.
6. PP. Tremas pacitan
7. PP. Zainul Hasan Genggong
8. PP. Sabilurrosyad, Gasek, Malang (KH Marzuki Mustamar)
9. PP. Bumi Sholawat Lebo Sidoarjo
10. PP. Darul Ulum Karangpandan, Pasuruan, mulai jam 7 pagi. Feat. Pembacaan Puisi by Haidar Hafeez.
11. PP. DARUN NAJAH petahunan lumajang di ikuti oleh santri dan dewan guru..
12. PP. Nurul Huda Sedodol Plinggisan Kec. Kraton Kab. Pasuruan
13. PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang: Istighotsah dan Upacara Bendera
14. PP. Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo
15. PP. SALAFIYAH Kebonsari Pasuruan (santri Putra, juga santri Putri)
16. PP. BAYT AL-HIKMAH Pasuruan
17. PP. An Nur 2 Al Murtadlo Bululawang Malang
18. Pesantren as shiddiqiyah jakarta barat DKI JAKARTA dengan pakaian adat dan pakaian pejuang.serta parade ekstrakulikuler dan drama
perjuangan.
19. PP. Qomarul Hidayah Gondang Tugu Trenggalek, di ikuti seluruh santri dan siswa/siswi se yayasan
20. PP. Daris Sulaimaniyah, Kamulan Trenggalek.
21. PP. Al Anwar Baruharjo Trenggalek
22. PP. Hidayatulloh, Pule Trenggalek
23. PP. Modern Raden Paku Trenggalek
24. PP. Al-Istiqomah karangan Trenggalek
25. PP. Hasyim Asy’ari Bangsri, Jepara
26. PP. APIK Kaliwungu Kendal: lokasi upacara parkir Timur masjid Agung Kaliwungu
27. Ponpes Mambaul Ulum Sukodadi Paiton Probolinggo
28. Ponpes As-Shomadiyah Burneh Bangkalan
29. PP. Darul Huda Mayak Tonatan Ponorogo

Mungkin nama pesantren Anda belum masuk ke daftar? Silakan tinggalkan komentar di bawah ini;)

Daftar Pondok Pesantren di Lombok Timur

Berikut ini adalah daftar Pondok Pesantren di daerah Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Untuk melihat list (daftar) Pondok Pesantren di daerah Anda, silakan klik tautan Daftar Ponpes se-Nusantara.

Nama Pondok PesantrenAlamatKecamatan
Pondok Pesantren Al Mahsun Khidir NWDasan Tapen Gerung LobarGerung
Pondok Pesantren Al Mujahidin NWTemposGerung
Pondok Pesantren Al Muslimun NWKebon KongokGerung
Pondok Pesantren Al-MahmudAik Ampat Dasan GeresGerung
Pondok Pesantren Darun NawawiDasan TapenGerung
Pondok Pesantren DarunnadwahDasan Ketujur Gapuk GerungGerung
Pondok Pesantren DarussalamBermiGerung
Pondok Pesantren HidayatuddarainJl. Jendral SudirmanGerung
Pondok Pesantren Manba'ul UlumDusun Ketujun GapukGerung
Pondok Pesantren Mi'rojussalamBabussalam Bile KeditGerung
Pondok Pesantren Najmul HudaBatu BokahGerung
Pondok Pesantren Nurul HudaTempos KesumaGerung
Pondok Pesantren Nurul Karim NWKebon AyuGerung
Pondok Pesantren Al Akhyar NWBagik PolakLabuapi
Pondok Pesantren Al IkhlashiyahJl. M. RaisLabuapi
Pondok Pesantren Al IstiqomahDesa TelagawaruLabuapi
Pondok Pesantren Assaadah IshlahiyahLabuapiLabuapi
Pondok Pesantren Darul QuranJln. TGH Ibrahim Al-KhalidiLabuapi
Pondok Pesantren Darunnajah Al-FalahTelaga Waru Gubuk IdaLabuapi
Pondok Pesantren Ijmaiyyah BabussalamRungkang MerembuLabuapi
Pondok Pesantren MauidzunnisyanMejeti Krama JayaLabuapi
Pondok Pesantren Al Hasany Hamzanwadi NWJl. TGH Abdul KarimKediri
Pondok Pesantren Al-IshlahuddinyPelowok KediriKediri
Pondok Pesantren Al-KasyifKebon Orong Dasan BaruKediri
Pondok Pesantren Al-MukhtariyahKuripanKediri
Pondok Pesantren Ishlahil AthfalRumak BarakKediri
Pondok Pesantren Nurul HakimJl. Taruna No. 5Kediri
Pondok Pesantren RiyadusshalihinJln Taruna Ombe Baru OmbeKediri
Pondok Pesantren SelaparangJl. TGH. Abdul HafidzKediri
Pondok Pesantren Yusuf AbdussatarJl. Kali BabakKediri
Pondok Pesantren Al Ma'arif Qamarul HudaPembulun Keling SesaotNarmada
Pondok Pesantren Al-FurqanBatukuta NarmadaNarmada
Pondok Pesantren Darul HikmahTanak Beak NarmadaNarmada
Pondok Pesantren DarussalamKetapang desa GegerungNarmada
Pondok Pesantren Hikmatussyarief NWSalut Selat NarmadaNarmada
Pondok Pesantren Nurul Haramain NW PutraJl. Tegal Banyu Lembuak NarmadNarmada
Pondok Pesantren Nurul Harmain NW PutriJalan Hamzanwadi Lembuak NarmaNarmada
Pondok Pesantren Qur'aniyahBatukutaNarmada
Pondok Pesantren QuraniyahBatukutaNarmada
Pondok Pesantren Tarbiyatul MustafidBaturimpang Krama JayaNarmada
Pondok PesantrenÊPP Al Aziziyah Lombok Barat Desa Kapek, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok BaratGunungsari
Pondok Pesantren Al HalimyJl. Patimura SeselaGunungsari
Pondok Pesantren Al HamidiyahSesela Kebun IndahGunungsari
Pondok Pesantren At-TahdzibKekait GunungsariGunungsari
Pondok Pesantren MQWH Al-AziziyahKapek GunungsariGunungsari
Pondok Pesantren NW Jauhar PelitaSeselaGunungsari
Pondok Pesantren Nurul MujahidinDopang GunungsariGunungsari
Pondok Pesantren Raudlatusshibyan NWBelencong Gunung SariGunungsari
Pondok Pesantren Syaikh SayuthiDusun Ireng LauqGunungsari
Pondok Pesantren Tarbiyatul IslamiyahKopang SokongTanjung
Pondok Pesantren Nurul Huda NWGondangGangga
Pondok Pesantren Babul MujahiddinBayan BeleqBayan
Pondok Pesantren Maraqitta LimatLokok AurBayan
Pondok Pesantren Nurul BayanTelage Bagek AnyarBayan
Pondok Pesantren Nurul HaqDesa Sambik ElenBayan
Pondok Pesantren As-SulamyDesa Langko LingsarLingsar
Pondok Pesantren DarussalamKetapang Desa GegerungLingsar
Pondok Pesantren Nurul HikmahLangko Desa LangkoLingsar
Pondok Pesantren Al HikmahJl. Raya PamenangPamenang
Pondok Pesantren Al JihadTelaga Wareng PabarPamenang
Pondok Pesantren Al-MubassyisyrunJl. TerenganPemenang
Pondok Pesantren Hidayaturahman NWMenggalaPamenang
Pondok Pesantren Al-BaqiatusshalihatSantongKayangan
Pondok Pesantren Bayyinul UlumSantong AsliKayangan
Pondok Pesantren Nurul IslamDesa KayanganKayangan
Pondok Pesantren Al Hidayah NWLendang DamaiLembar
Pondok Pesantren Al-HamidyKebon Talo LembarLembar
Pondok Pesantren Nujumul HudaBatu SambanLembar
Pondok Pesantren Nurul HikmahLembarLembar
Pondok Pesantren Al Muslimun NWTegal MenintingBatu Layar
Pondok Pesantren Al-HamidiyahSidemen desa Lembah SariBatu Layar
Pondok Pesantren Ishlahul MusliminSentelukBatu Layar
Pondok Pesantren Raudlatul MusliminKayanganBatu Layar
Pondok Pesantren Riyadlul WardiyahKerandanganBatu Layar
Pondok Pesantren Riyadus ShibyanLendang ReBatu Layar

Jika ada nama Ponpes yang masih belum masuk daftar diatas, mohon berikan feedback kepada kami. Anda juga dapat berkontribusi untuk melengkapi daftar pesantren di daerah Anda dengan cara menuliskan di komentar atau mengirim email ke list[at]ponpes[dot]net.

Pengajian Umum Kemerdekaan RI

Ponpes.net – Pengajian umum ini dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-72. Doa bersama untuk mensyukuri kemerdekaan, pahlawan, ulama dan Nahdlatul Ulama dari segala macam tantangan zaman.

Acara ini akan dilaksanakan pada hari Selasa, 15 Agustus 2017 di Jalan SMEA Wonokromo, Jawa Timur. Pengajian akan diisi tausiyah oleh KH. D. Zawawi Imran, Sang Celurit Emas.

Silakan datang ke acara tersebut yaa..

Program Santripreneur Cocok untuk Pesantren

Ponpes.net – Pondok Pesantren (Ponpes) Sunan Drajat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, dinilai cocok menjadi pilot project program Santripreneur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada tahun 2017.

“Pondok Pesantren Sunan Drajat cocok sekali untuk semuanya itu, karena karena Sunan Drajat ini peninggalan wali songo satu-satunya yang masih ada jurusannya ekonomi. Sunan Drajat itu menteri ekonomi, cocok sekali untuk diteruskan,” kata Pengasuh Ponpes (Ponpes) Sunan Drajat, KH. Abdul Ghofur, Senin (7/8/2017).

KH. Abdul Ghofur mengaku, pihaknya menyambut baik pelaksanaan program Santripreneur yang diinisiasi oleh Kemenperin, karena dapat menambah kegiatan positif bagi para santri di lingkungan pondok.

“Cocok sekali untuk diteruskan menata ekonomi itu, PP Sunan Drajat menata fil akhiroti hasanah, Kementerian menata fiddunya hasanah, lengkap nanti,” tuturnya.

Selain itu, melalui usahanya nanti, para santri akan bisa berguna bagi masyarakat, menumbuhkan perekonomian daerah setempat seperti penyerapan tenaga kerja.

‘’Kami merupakan salah satu pondok pesantren yang mandiri. Dalam memenuhi kebutuhan produksi air minum datam kemasan (AMDK), jus mengkudu, Kerniri Sunan, Garam Samudra dan Taman Kanak-kanak, Madrasah lbtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah,’ dan Institut Sunan Drajat,” ucapnya.

Khutbah Jumat: Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

Khutbah I

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلَّذِى خَلَقَ اْلإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِي اْلأَرْضِ وَالَّذِى جَعَلَ كُلَّ شَيْئٍ إِعْتِبَارًا لِّلْمُتَّقِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَّسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْئ ٍقَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَأَفْضلِ اْلأَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبه أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Jamaah shalat Jum’at yang semoga dirahmati Allah,

Kaum Muslimin patut bangga memiliki ajaran yang begitu memuliakan manusia. Islam lahir dari latar sejarah bangsa Arab yang melanggar moralitas perikemanusiaan: fanatisme kesukuan yang parah, pelecehan terhadap perempuan, perang saudara, perampasan hak milik orang lain, perjudian, dan lain sebagainya. Dalam ajarannya pun, komitmen tersebut juga sangat jelas. Allah berfirman, wa laqad karramnâ banî âdam (sungguh telah Kami telah muliakan manusia). Islam juga menjamin kehidupan yang berkeadilan, aman secara jasmani dan ruhani, serta merdeka dari belenggu penindasan. Dalam tradisi ushul fiqih, kita mengenal prinsip-prinsip yang haram dilanggar, yakni hak hidup (hifdhun nafs), terjaganya kehidupan agama (hifdhud din), jaminan mendayagunakan akal (hifdhul ‘aql), jaminan kepemilikan harta (hifdhul mâl), dan terjaganya kesucian keluarga (hifdhun nasl). Beberapa hal pokok inilah yang lazim disebut maqâshidus syarî‘ah .

Umat Islam, juga seluruh umat manusia lainnya, masing-masing memiliki hak untuk hidup yang wajar. Sebagai implementasi dari nilai-nilai utama tadi, mereka seyogianya mendapat keleluasaan dalam mencari ilmu, beribadah, mengekspresikan pikiran, berkarya, dan sejenisnya. Jaminan tersebut wajib ada selama dilaksanakan dalam kerangka kemasyarakatan yang bertanggung jawab. Apabila kebebasan tersebut dirampas secara zalim maka sangatlah wajar sebuah perlawanan dan pembelaan kemudian mengemuka.

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ. الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ

Artinya: “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (Yang teraniaya itu adalah) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata “Tuhan kami hanyalah Allah”.

Jika kita perhatikan secara seksama, Surat Al-Hajj ayat 39-40 ini menegaskan bahwa tiap orang memiliki hak atas kampung halaman, rumah, tempat tinggal, tanah air yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut diyârihim (berasal dari kata dâr, rumah). Sebab itu, tatkala mereka diusir atau dirampas hak-haknya, Allah memberi kewenangan mereka untuk membela diri. Mengapa demikian? Karena kampung halaman atau tanah air adalah tempat berpijak untuk melaksanakan kehidupan secara wajar dan aman sebagai manusia yang dimuliakan di buka bumi. Tanah air adalah tempat untuk mencari nafkah, makan, berkeluarga, menunaikan kewajiban agama, bermasyarakat, mengembangkan pendidikan, dan seterusnya.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,

Begitu pula yang diteladankan Rasulullah. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam bersama para sahabat berjuang keras melindungi hak-hak mereka. Mereka berperang bukan semata hanya untuk menyerang. Mereka berperang karena sedang diserang dan melawan kezaliman kaum Musyrik Quraisy yang merenggut kebebasan kaum Muslim dalam bertauhid dan hidup tanpa gangguan siapa pun. Artinya, umat Islam berperang justru karena tak menginginkan perang itu terjadi sama sekali di muka bumi.

Semangat serupa juga dikobarkan para ulama-ulama kita era pra-kemerdekaan Indonesia. Selama proses penjajahan Jepang dan Belanda, penduduk pribumi tak aman dan tak nyaman di tanah air sendiri. Mereka tersingkir dari kehidupan yang layak: susah belajar, susah makan, susah bekerja, dan susah beribadah. Berbagai kekejaman dan kezaliman inilah mendorong para ulama bersama umat Muslim, dan para pahlawan lain untuk mengusir kaum kolonial. Kalau kita pernah mendengar “Resolusi Jihad” maka itu adalah salah satu cerminan nyata dari semangat tersebut. Resolusi Jihad adalah deklarasi perang kemerdekaan sebagai “jihad suci” yang digelorakan para kiai di Indonesia pada 22 Oktober 1945 guna menghadang pasukan Inggris (NICA) yang hendak menjajah Indonesia. Berkat perjuangan yang gigih, gelora keislaman yang tinggi, serta riyadlah dan doa para ulama, serangan NICA dapat digagalkan dan bangsa Indonesia tetap merdeka hingga kini sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Sebagian ulama tersebut bahkan tak hanya memimpin perlawanan, tapi juga aktif bergerilya, menyusun strategi, bahkan perang fisik secara langsung dengan pasukan musuh. Umat Islam sadar bahwa membela tanah air dari penindasan adalah bagian dari perjuangan Islam, yang nilai maslahatnya akan dirasakan oleh jutaan orang. Terlebih saat Resolusi Jihad dikumandangkan, Indonesia adalah negara yang baru dua bulan berdiri.

Para ulama dan cendekia Muslim sadar betul, bahwa sebagai makhluk sosial kehadiran negara merupakan sebuah keniscayaan, baik secara syar’i maupun ‘aqli, karena banyak ajaran syariat yang tak mungkin dilaksanakan tanpa kehadiran negara. Oleh karena itu, al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulûmid Dîn mengatakan:

المُلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Kekuasaan (negara) dan agama merupakan dua saudara kembar. Agama adalah landasan, sedangkan kekuasaan adalah pemelihara. Sesuatu tanpa landasan akan roboh. Sedangkan sesuatu tanpa pemelihara akan lenyap.”

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kini kita diami adalah hasil kesepakatan bangsa (mu’ahadah wathaniyyah), dengan Pancasila sebagai dasar negara. Ia dibangun atas janji bersama, termasuk di dalamnya mayoritas umat Islam. Bahkan, sebagian perumus Pancasila adalah para tokoh dan ulama Muslim. Karena itu, sebagai penganut agama yang sangat menghormati janji, seluruh umat Islam wajib mentaati dasar tersebut, apalagi tak nilai-nilai di dalamnya selaras dengan substansi ajaran Islam. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

المُسْلِمُوْنَ عَلىَ شُرُوْطِهِمْ

Artinya: “Kaum Muslimin itu berdasar pada syarat-syarat (kesepakatan) mereka.” (HR Al-Baihaqi dari Abi Hurairah)

Indonesia memang bukan Negara Islam (dawlah Islamiyyah), akan tetapi sah menurut pandangan Islam. Demikian pula Pancasila sebagai dasar negara, walaupun bukan selevel syari’at/agama, namun ia tidak bertentangan, bahkan selaras dengan prinsip-prinsip Islam. Sebagai konsekuensi sahnya NKRI, maka segenap elemen bangsa wajib mempertahankan dan membela kedaulatannya. Pemerintah dan rakyat memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Kewajiban utama pemerintah ialah mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya secara berkeadilan dan berketuhanan. Sedangkan kewajiban rakyat ialah taat kepada pemimpin sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah,

Kita patut bersyukur bahwa negara kita, Indonesia, cukup aman dibanding sebagian negara di belahan lain dunia. Umat Islam di sini dapat menjalankan ibadah dan menuntut ilmu agama dengan tenang kendatipun berbeda-beda madzhab dan kelompok. Kita juga relatif bebas dari kekangan di Tanah Air dalam menjalankan hidup sehari-hari. Udara kemerdekaan ini adalah karunia besar dari Allah subhanahu wata’ala. Jangan sampai kita baru merasakan kenikmatan luar biasa ini setelah rudal-rudal berjatuhan di sekeliling kita, tank-tank perang berseliweran, tempat ibadah hancur karena bom, atau konflik berdarah antara-saudara sesama bangsa. Na’ûdzubillâhi min dzâlik.

Mari kita syukuri kemerdekaan ini dengan hamdalah, sujud syukur, dan mengisinya dengan kegiatan-kegiatan positif. Kita mungkin tak lagi sedang berperang secara fisik sebagaimana ulama-ulama dan pahlawan kita terdahulu, tapi kita masih punya cukup banyak masalah kemiskinan, kebodohan, korupsi, kekerasan, narkoba, dan lain-lain yang juga wajib kita perangi.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهّ أَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Gagal mengambil konten.